Sunday, September 3, 2017

MAY DAY!! My baterie is gone!

Salah satu hal yang paling sering terjadi saat saya sedang jalan-jalan adalah kehabisan baterei! Tentu saja, kabel charger selalu tersedia di dalam tas tangan ke manapun saya pergi, tapi saya terkadang sering lupa membawa power bank :(

Alhasil saat sedang asyik hunting foto dan video saya pun kelabakan mencari tempat untuk men-charge smartphone saya tersebut. 

Di Paris, ada beberapa tempat tersembunyi di mana kita bisa men-charge handphone tanpa perlu repot, yaitu di halte tempat menunggu bus! Perhatikan baik-baik sisi halte tempat iklan seringkali dipasang. Nah, harta karun berupa colokan kabel USB tersembunyi di situ.

Yuk simak video-nya!


Coldplay Paris Concert

Cerita yang tertinggal dari konser Coldplay.

Tanggal 18 Juli 2017 yang lalu, saya berkesempatan menonton konser grup band yang saya suka dari jaman SMA dulu. Tiket dibeli dari bulan Oktober tahun sebelumnya, dan pastinya excited banget bisa nonton konser yang memang happening hingga ke Indonesia.

Hanya saja, saya melakukan satu kesalahan fatal....

Tiket konser tertinggal di rumah karena salah ambil dengan kuitansi pembayaran 

Pukul 19 pintu sudah mulai dibuka dan saya sudah di depan gerbang, tanpa tiket. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung pesan Uber untuk kembali ke rumah yang jaraknya lumayan dari Stade de France.

Supir Ubernya masih muda dengan mobil yang juga sangat ok.

Kami mengobrol dan akhirnya dia pun berjanji , "jangan khawatir! Anda tidak akan ketinggalan konser, I promise you!"

Si Mas Uber pun langsung melesat, di ring road kota Paris, dia melaju hingga lebih dari 150km/jam. 
Panik, saya cuma bisa bilang 
"saya mau nonton konser tp saya juga masih mau hidup"

Mas Uber cuma tertawa dan bilang "I know what I am doing, don't worry!"

Entah berapa lampu merah yang dia lewati dan berapa banyak supir yang teriak mencerca karena dia salip dengan sangat berbahaya tapi, WE MADE IT!

Saya tiba persis saat Coldplay mulai main safe and sound!


Sam dan Tukang Cukur

Saat berada di Prancis, saya adalah tukang cukur dadakan untuk Sam. Di Indonesia, Sam punya tukang cukurlangganan! Saya tidak pernah menyangka bahwa bule saya yang AJAIB ini ternyata lebih memilih untuk mencukur rambut di bawah pohon rindang di sekitar Kebun Raya Bogor dibandingkan di dalam mall yang ber-AC.

Alasannya, lagi-lagi tidak jauh berbeda dengan alasannya memilih pasar tradisional :

1. Memberikan uang sebagai tukar jasa kepada yang lebih membutuhkan
2. Harga lebih murah dengan hasil yang tidak kalah bagus

Awalnya, saya agak seram juga membiarkan Sam untuk potong rambut dan jenggot di sana. Apalagi ketika melihat bungkus produk yang digunakan, mulai dari spray untuk setrika baju hingga botol bekas kopi instant. Tapi ternyata, hasilnya cukup memuaskan!


Bahkan nih, satu minggu kemudian, saat tukang cukur ini sedang absen bekerja, Sam akhirnya pergi ke mall untuk mencukur jenggotnya. Dia marah-marah karena hasilnya sangat jelek!





MALL VS PASAR TRADISIONAL


Saya beberapa kali menulis tentang Sam tapi tidak pernah memperkenalkannya secara resmi. Saya menikah dengan WN Prancis yang bernama Samuel pada 5 Oktober 2013 dan tentu saja selama hampir 4 tahun perkawinan campur kami berlangsung ada banyak cerita. Kami banyak belajar satu sama lain. Salah satunya setiap kali saya mudik ke Indonesia, saya yang orang Indonesia asli justru banyak belajar dari Sam loh! Misalnya tentang ini :  

MALL VS PASAR TRADISIONAL

Saya dulu, lebih suka menghabiskan waktu di mall, seharian penuh bisa saya habiskan hanya nongkrong di mall, mulai dari windows shopping, makan, ngafe dan kembali windows shopping.

Sam, paling anti diajak ke mall dan paling senang nongkrong di warung pinggir jalan untuk mengobrol dengan siapa saja. Kali ini pun untuk belanja “oleh-oleh” dan persediaan bahan masakan Indonesia untuk saya di Prancis nanti, Sam lebih memilih untuk belanja ke Pasar Tradisional. Alasannya, produk yang ditawarkan lebih segar dan pastinya kami tidak menghabiskan uang untuk para pengusaha kaya raya.

Awalnya, agak malas pergi ke pasar becek dan belanja barang yang jelas-jelas bisa didapatkan di supermarket ber-AC di mall, ternyata Samuel benar! Bukan Cuma harga yang lebih murah tapi di sana Sam mengobrol dengan banyak orang dan kemampuan bahasa Indonesianya kembali berkembang!

Here is the video : 






5 Alasan Sam memilih belanja di Pasar Tradisional : 

1. Produk lebih segar
2. Membeli dari tangan yang tepat, bukan dari pengusaha besar
3. Membeli dari produsen lokal, tentunya lebih ramah lingkungan!
4. Jalan-jalan dan mengobrol dengan pedagang, hal yang tidak bisa dilakukan di supermarket
5. Lebih sehat di kantong!

P.S : Saya tidak mengambil video saat Sam sedang mengobrol dengan para pedagang, alasannya sih karena saya masih vlogger pemula jadi saya kurang bisa mengambil moment yang pas dan pas saya mengambil video, moment Sam dan pedagang yang sedang mengobrol menjadi kurang alami. Akhirnya daripada mengorbankan pertukaran yang berharga demi sebuah vlog, saya pun memilih untuk tidak merekam.


Saturday, September 2, 2017

Life begins at 30!

Tahun 2017 ini menjadi tahun bersejarah bagi kehidupan saya. Mulai dari usia yang memasuki kepala 3 hingga keputusan untuk keluar dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang baru di kehidupan professional. Ini bukan kali pertama saya keluar dari zona nyaman dan tampaknya saya memang tidak pernah bosan untuk kembali melakukan hal yang sama.

Well, usia 30 tampak menonjok karena ternyata hidup itu menyimpan rahasianya tersendiri. Saya menemukan permainan ini di Facebook dan tampaknya seru juga untuk melihat kembali apa yang dulu saya alami di usia yang lebih muda, 22 tahun.

Tahun 2009 adalah tahun di mana saya usia 22 tahun, saat itu, saya sedang sibuk berkeliling Eropa dengan Kanthy, sahabat saya. Kami berdua memutuskan untuk berjalan-jalan dengan budget yang sangat minim (setiap orang yang kami ceritakan selalu bertanya : APA MUNGKIN?”)

Tulisan ini membawa saya kembali membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya di tahun 2009, terutama bagian ini. Ternyata saya pernah bertanya hal yang sama, di waktu yang hampir bersamaan. Lucunya, hingga saat ini saya belum juga  menemukan jawabannya.

Lived in : Nomad
Ulang tahun ke 22 saya rayakan di kota kecil dekat Milan di Italia. Saat itu saya dan Kanthy berada di tahap akhir perjalanan yang sudah kami lakukan selama dua bulan penuh.

Now : Viroflay, France
Kota yang berjarak 12km dari pusat kota Paris. Jujur saja, saya sama sekali tidak menyangka akan tinggal di sini. Bahkan pada tahun 2009 saya sama sekali tidak mengetahui bahwa kota bernama Viroflay itu ada.

Di blog saya, saya pernah bilang bahwa tinggal di Prancis untuk selamanya adalah BIG NO NO. Ternyata, sampai saat ini, saya belum melihat pilihan lain yang saya punya.

My dreams BACK THEN : Saya mengambil kutipan dari blog saya pada saat itu, karena ternyata saat itu, di waktu yang hampir sama, saya sedang mengalami kegalauan yang sama.

“Apapun jadinya saya nanti, yang jelas, saya ingin menjadi orang yang berguna. Saya ingi melihat dunia, being an endless traveler”

Tulisan ini mengundang banyak komentar bahkan dari orang yang saya tidak kenal sama sekali. Menurutnya pilihan saya untuk menjadi an endless traveler itu egois.

"Masa Icha bisa jalan-jalan ke mana-mana tapi keadaan rumah dan lingkungan sekitarnya nggak lagi Icha lihat?"

Ada juga yang telah mengenal saya dengan cukup lama dan ikut berkomentar tentang pilihan untuk berkeluarga. Katany, dulu saat saya remaja, cita-cita saya adalah memiliki keluarga yang hangat dan merayakan pernikahan hanya dengan akad sederhana.

People change, so do I!

NOW : Jujur kalau ditanya apa impian saya saat ini, saya sendiri belum bisa menjawabnya. Saya mungkin hanya ingin hidup nyaman tapi ternyata kenyamanan yang baru saya dapatkan selama tidak lebih dari 1 tahun itu saya tinggalkan (Fyi, saya baru saja resign kerja untuk memulai bisnis)

Impian saya saat ini adalah kesuksesan bisnis yang nantinya mungkin bisa membawa saya untuk membangun sebuah keluarga yang hangat dan sederhana :)


The way I see myself BACK THEN: Young and fearless.

NOW: Still young (of course) dengan banyak ketakutan.
Tapi ternyata, membuka kembali blog yang sudah bersarang laba-laba kerena tidak pernah saya isi, membawa saya pada satu komentar yang mengisi hati saya dengan penuh kehangatan.

"Cha, kamu tetap jadi penulis paling menginspirasi buat saya. Masih ingat aku? Yang jadi Au Pair gara-gara beli buku kamu dan ketemu kamu di Paris summer 2014."

Tuhan selalu punya jalan tersendiri untuk menyemangati umatnya. Entah kenapa, saat saya sedang merasa sangat jatuh, selalu saja ada salah satu dari pembaca yang hadir out of nowhere, mengingatkan saya bahwa saya telah menginspirasi mereka.

Akhirnya, saya menyadari satu hal, mungkin dulu saya adalah inspirasi bagi mereka, tapi sekarang merekalah yang membuat hidup saya terasa lebih berguna.

        Life begins at 30 and I will start it BRIGHTLY!!!