Tuesday, February 7, 2017

Kunitoraya

こんにちは


 
 
KUNITORAYA
5 Rue Villedo, 
75001 Paris
 
Arsitektur bangunan yang berada di Ibu Kota Prancis ini, bisa jadi hampir seragam, yaitu style Haussmannien, tapi hampir setiap kawasan (neighborhood) di kota Paris memiliki karakteristik tersendiri. Contohnya saja kawasan yang sering saya sebut dengan Little India of Paris di sekitar La Chapelle dan beberapa China Town di arrondissement 13 dan kawasan Belleville. Kali ini, kita akan berjalan-jalan Little Tokyo alias kawasan Jepang di kota ini.
Sudah bukan rahasia umum, restoran Jepang, terutama sushi di Prancis lebih banyak dikuasai oleh keturunan China. Bahkan salah satu restoran sushi favorit saya dan suami, pemilik dan kokinya merupakan imigran dari China yang datang ke Prancis sekitar 10 tahun yang lalu. Nah, apabila ingin mencari restoran “otentik” Jepang dengan koki, pelayan, hingga konsumen dari Jepang maka datanglah ke kawasan Little Tokyo ini.
Siapa sangka, Little Tokyo ini justru berada di salah satu kawasan paling chic di kota Paris, tidak jauh dari gedung Opera Paris. Konon, beberapa perusahaan Jepang pertama membuka kantor cabangnya di daerah ini dan seiring dengan datangnya para pegawai dari Jepang maka restoran-restoran Jepang, supermarket yang menjual produk-produk Jepang, hingga toko manga dan anime pun bermunculan.
Banyak teman merekomendasikan untuk mencoba makanan Jepang –terutama udon dan ramen- di kawasan ini. Salah satu restoran yang cukup terkenal dan adalah Kunitoraya. Sebelum bisa mencoba menikmati hidangan di rumah makan dengan ornament khas Jepang ini, banyak yang harus rela mengantri hingga 30 menit di luar restoran. Tempat duduk yang tersedia memang tidak banyak, selain itu namanya yang sudah tersohor membuat reservasi tidak mungkin untuk dilakukan. 
Begitu memasuki restoran, saya yang memang pecinta budaya Jepang –namun belum pernah ke Jepang- terkesima dengan dekorasi yang sangat cantik, dapur terbuka dengan para koki berwajah oriental dan tentu saja kami juga dilayani oleh keramahan ala Jepang. Saya memesan udon tempura yang menurut selera saya, terlalu berminyak dan akhirnya sukses membuat saya sakit tenggorokan karena minyaknya yang meresap ke dalam sup udon. Mie udonnya sendiri saya akui sangat segar dan enSedangkan teman-teman makan saya saat itu merasa sangat puas dengan pesanan mereka. 
 
Menilai dapur sebuah restoran hanya dengan satu kali makan saja mungkin memang tidak cukup, namun satu hal lain yang membuat saya berpikir ulang untuk kembali makan di sana adalah ruang gerak yang memang sangat sempit dan tentu saja antrian panjang yang membuat kita tidak bisa ngobrol berlama-lama di dalam restoran. Selain itu, banyaknya pilihan restoran lain di kawasan ini, terutama di sepanjang Rue Sainte-Anne tampaknya membuat saya ingin mencoba satu persatu sebelum menetukan restoran favorit saya.
Saya rasa, rate tinggi restoran ini di beberapa forum di Internet adalah salah satu faktor yang membuat tingginya minat konsumen yang ingin merasakan kuliner Jepang di Paris.

RATE
Google : 4,4/5
TripAdvisor : 4/5
Personal note : 6.5/10
Saya agak kecewa dengan makanan yang saya pesan dan juga tidak merasa nyaman di dalam karena ruang gerak yang sangat terbatas (bahkan sikut saya pun bersentuhan dengan orang yang duduk di sebelah saya), selain itu antrian di luar yang panjang membuat saya juga merasa diburu-buru untuk menghabiskan makanan yang saya pesan. Harga makanannya pun menjadi agak tinggi untuk service tempat yang kurang mendukung. Nilai lebih dari restoran ini adalah bahan-bahan makanan yang memang terasa sangat segar (saya bisa rasakan dari mie udon yang saya makan), dekorasi, dan para pelayan yang memang sangat ramah.
Kisaran harga : 25€-50€


Lao Douang Chan


Lao Douang Chan
75013 Paris 

Selama saya merantau di Prancis, hal yang paling saya perhatikan adalah sulitnya bagi sebagian besar orang Indonesia untuk bisa beradaptasi dengan masakan Prancis. Beruntunglah bagi kami yang tinggal di di Paris karena selain ada beberapa pilihan restoran Indonesia, kami juga dimanjakan dengan tersebarnya supermarket Asia di dalam kota. Walau pun tentu saja, tidak ada yang bisa mengalahkan praktisnya hidup di Indonesia, mulai dari tukang bubur yang mangkal di depan kompleks rumah hingga banyaknya aneka jajanan yang tersedia hampir 24 jam per hari.
Ada beberapa restoran Asia di Paris yang seringkali dikunjungi oleh orang-orang Indonesia di Paris, salah satunya restoran Laos di kawasan pecinan distrik 13, Lao Douang Chan. Salah satu alasan mengapa restoran ini menjadi favorit warga Indonesia di sini adalah Mie khas Laos yang memang sangat mirip dengan mie yamin di Indonesia. Selain itu, sambal yang mereka sediakan juga merupakan salah satu sambal terpedas yang pernah saya coba di restoran Asia di Prancis. 


Saya baru sadar bahwa orang Indonesia di Paris ternyata sangat banyak ketika berkunjung ke restoran ini. Pada setiap kunjungan, selalu ada beberapa meja yang diisi oleh orang Indonesia yang tidak saya kenal. Terkadang, untuk bisa mendapatkan meja saat jam makan malam di akhir pekan pun, kami harus mengantri selama hampir 30 menit dan di dalam antrian, tentu saja selalu ada orang Indonesia
Selain hidangan mie, restoran ini juga menyediakan banyak pilihan menu khas Asia Tenggara seperti boeuf seché aux trois parfums –sejenis dendeng, Salad papaya muda, dan bahkan nasi goreng. Harga di restoran ini pun sangat terjangkau, kita bisa makan kenyang hanya dengan merogoh 10€ - 20€ saja.
Sayangnya, kepopuleran restoran ini di kalangan orang Indonesia tidak dibarengi dengan pelayanan ramah yang seharusnya menjadi ciri khas orang Asia Tenggara. Tentu saja, melihat kualitas harga dan tempat yang ditawarkan, kami sebagai konsumen memang tidak bisa terlalu banyak menuntut. Namun, saya lebih merekomendasikan restoran Asia lain di kawasan yang sama apabila ingin merasakan masakan Asia tenggara –di luar mie yamin- yang lebih berkualitas. Bahkan, beberapa teman saya benar-benar memboikot restoran tersebut karena servisnya yang memang tidak terlalu menyenangkan.
 
Rate
Google           :  4,4/5
Trip Advisor   : 4,5/5
Personal rate : 6,5/10

YE BAN Restoran Korea

YE BAN
93 Rue de Javel
75015 Paris


Saya tidak pernah bosan untuk mengulang bahwa kota Paris yang multikultural adalah favorit saya. Di ibu kota Prancis ini, setiap sudut kota menyimpan “gem” tersendiri yang membuat penghuninya bisa merasakan sedikit budaya dari negara lain, terutama budaya kuliner. Saya adalah pecinta kuliner yang memang hobi mencoba restoran-restoran baru. Namun, sebagai bagian dari generasi milenial, saya selalu memastikan bahwa tempat pilihan saya tersebut mendapat “rate” yang cukup bagus dari para pengguna Internet lainnya. Bagi sebagian orang yang saya kenal, bahkan nilai yang cukup bagus di berbagai forum saja tidak cukup untuk memutuskan pilihan restoran.
Kali ini, pilihan perjalanan kuliner saya jatuh pada masakan Korea. Kenapa Korea? Alasannya cukup mudah, karena saya sedang terobsesi dengan drama seri dari negara tersebut. Untuk para penggemar drama, tentunya istilah barbecue ala Korea sudah tidak asing lagi. Berdasarkan semua drama yang pernah saya tonton –saya sendiri belum berkesempatan mengunjungi Korea Selatan secara langsung-, menikmati hidangan marinated meat yang dibakar sendiri di atas meja makan seolah sudah menjadi tradisi yang kental di negara tersebut.
Pilihan restoran pun jatuh pada YE BAN, sebuah restoran kecil yang berada di arrondissement 15 yang memang tidak jauh dari tempat saya tinggal. Begitu masuk ke dalam restoran yang berkapasitas tidak lebih dari 40 orang tersebut, saya langsung dibawa ke suasana Korea Selatan yang sering saya lihat melalui drama. Sebagian besar pengunjung pada sabtu siang itu berasal dari Asia Timur, Korea dan Jepang. Selain itu, dekorasi mural di mana para pengunjung bisa meninggalkan jejak tulisan juga mengingatkan saya pada beberapa scène drama. Satu-satunya pelayan yang melayani kami semua juga berteriak dalam Bahasa Korea kepada koki di dapur. 
 Saya rasa, ada banyak yang juga berpendapat seperti saya, saat yang masak adalah orang asli dari negara di mana masakan tersebut berasal, perasaan otentik lebih terasa dan akhirnya bahkan saat saya belum menikmati hidangan, saya pun sudah merasa sedikit puas. 

Seperti biasa, saya selalu memesan Bulgogi –yang artinya dalam Bahasa Korea “daging bakar”. Biasanya, di restoran lain yang pernah juga saya kunjungi, menu barbecue sudah termasuk dengan beberapa hidangan pelengkap seperti kimchi dan aneka hidangan lainya –di drama sering disebut dengan “side dishes”. Kali itu, kami menikmati daging bakar tidak hanya dengan “side dishes” yang sudah saya kenal –seperti tumis bunga lotus dan tauge- namun juga dengan salad kol dan “roquettes” yang disajikan dengan saus yang benar-benar menyegarkan. Sayangnya, saya tidak menemukan kimchi di pilihan “side dishes” dan tampaknya kami harus memesan kimchi secara terpisah, walau pun akhirnya kami tidak memesan kimchi karena sudah terburu memesan beberapa menu lain. Saya sih langsung terbawa suasana dengan tidak merasa lengkap kalau belum ada kimchi, sepertinya saya memang sudah terkena dampak efek samping overdosis drama Korea.
Restoran ini mendapat banyak nilai bagus dari beberapa forum, bahkan memegang Certificate of Excellency dari TripAdvisor, salah satu forum tempat saya biasa mencari tahu mencari informasi sebelum memilih.


Rate
Trip Advisor : 4,5/5
Google : 4,7/5
LaFourchette : 9/10

Saya sendiri memberi nilai 8,5/10 dengan nilai terbesar pada suasana, kualitas dan rasa masakan. Kekurangannya ada di kimchi yang tidak termasuk dalam side dishes #teuteup dan toilet yang berada di luar restoran sehingga kurang praktis saat musim dingin untuk pemalas seperti saya.
Kisaran harga 15€-30€ (€€)


Saturday, November 26, 2016

Le Havre dan Quartier Perret

Ce que je veux, c’est de faire quelque chose de neuf et durable.”
Auguste PERRET -1945 saat perencanaan pembangunan kota baru dimulai.

"Saya ingin membuat sesuatu yang baru dan bertahan lama."


Bogor dikenal dengan kota hujan.
Bandung konon sih tempat di mana banyak cewek-cewek cantik nan modis.
Ada beberapa kota di Indonesia yang memiliki beberapa clichés seperti Bogor dan Bandung. Di Prancis pun tentu sama. Katanya di semakin kita ke selatan Prancis, semakin kita menemukan matahari dan kehangatan. Konon, semakin kita ke Utara, cuaca akan semakin mendung dan terlihat menyedihkan.
Tidak semua “katanya…” itu dapat dipercaya, salah satunya saat saya memutuskan untuk pergi ke Le Havre, sebuah kota pelabuhan di Normandie, Prancis.
Konon, di sana cuaca selalu buruk dan matahari sangat pelit.
Katanya lagi kota pelabuhan itu identik dengan industri dan tentu saja membuat kotanya menjadi tidak cantik.
Awalnya sih saya hanya iseng berkunjung karena sedang mencari tempat weekend gateway untuk keluar dari ibu kota tanpa harus menempuh waktu perjalanan yang panjang. Ceritanya sih kami berdua hanya ingin menghabiskan weekend berdua untuk menikmati aroma laut yang memang kami sangat sukai. Siapa sangka justru Le Havre menjadi salah satu kota favorit saya dan suami untuk menikmati weekend jauh dari kesibukan kota Paris. 

 
Salah satu hal yang paling Samuel sukai dari Le Havre adalah arsitekturnya yang menarik dan bahkan masuk sebagai salah satu situs yang dilindungi oleh UNESCO. Pusat kota Le Havre memang sangat hancur setelah perang dunia kedua. Zona yang hancur seluas 150 hektar tersebut dibangun kembali atara tahun 1945 hingga 1964 oleh tim yang diketuai oleh arsitek Auguste Perret. Di dalam zona tersebut ada lebih dari 12000 hunian dan banyak bangunan komersil, administratif dan bahkan relijius. 

 
Salah satu monument relijius yang wajib dikunjungi adalah gereja Saint-Joseph. Kalau dilihat dari jauh, saya yang memang sangat buta dengan dunia arsitektur melihatnya seperti Menara masjid yang tinggi menjulang. Hal yang menarik di gereja ini adalah mozaik kacanya yang konon mengubah pencahayaan di dalam gereja sesuai dengan matahari. Mozaik kaca tersebut dibuat oleh Marguerite Huré seorang seniman Prancis yang kebetulan nama keluarganya sama dengan nama keluarga suami.
Perret berhasil membuktikan keinginannya dan membuat Le Havre kembali hidup dengan arsitekturnya dan membuat arsitektur yang bertahan lama dan bahkan banyak dicontoh oleh generasi di bawahnya. Menurut para kenalan arsitek sih, bangunan yang saat ini apabila kita perhatikan sekilas tampak tidak istimewa, merupakan sesuatu yang sangat revolusioner pada masanya. Perret menjadi panutan dalam perencanaan perkotaan modern dengan bangunan beton yang setiap sudutnya dapat menjadi ruang yang fungsional.
Kita juga dapat mengunjungi apartemen percontohan, Atelier Perret yang sekarang sudah berubah menjadi museum pada jam-jam tertentu. Kunjungan hanya dapat dilakukan dengan guide yang akan menjelaskan secara detail mengenai arsitektur Perret yang ternama. Untuk dapat mengunjungi museum tersebut silahkan membeli tiket di pusat informasi turis di pusat kota.
Saya yang sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan museum nyatanya sangat menikmati kunjungan saya ke Atelier Perret. Hal yang membuat saya tertarik dengan kunjungan ke apartemen tersebut adalah ruang masa yang seolah tertinggal di akhir tahun 60-an. Memasuki apartemen percontohan Perret membuat saya seolah menaiki mesin waktu kembali ke masa tersebut. Mereka benar-benar berhasil menjaga setiap sudut ruangan sesuai dengan masanya saat pertama kali baru ditinggali. Perabotan, alat-alat elektronik, hingga boneka di kamar anak-anak dipilih dari tahun yang sama. Menurut guide kami saat itu, mereka seringkali mengganti perabotan di toko barang loak untuk mengubah dekorasi ruangan. Selain itu pameran sementara dari beberapa seniman juga sering kali dilakukan. 

 
Saya membayangkan bahwa pastinya di antara lebih dari 20000 unit hunian yang dibuat oleh Perret ditempati oleh beragam karakter, mulai dari keluarga hingga yang hidup seorang diri. Bukan hanya dekorasi saja yang berubah di setiap unit tapi juga cerita yang berada di dalamnya. 
 
Don’t judge the book by its cover ternyata berlaku tidak hanya untuk manusia saja. Siapa sangka, akhir pekan saya yang tadinya semua orang cukup skeptik karena mendengar nama Le Havre, nyatanya berakhir dengan sangat menyenangkan dan sukses membuat kebodohan saya sedikit berkurang.

Tujuh Belas Agustus

Rasanya hampir tidak ada orang Indonesia yang tidak mengenal tanggal 17 Agustus, tanggal yang begitu penting bagi bangsa kita, Indonesia. Lebih dari 71 tahun yang lalu, pada tanggal tersebut dua pahlawan negara mendeklarasikan kemerdekaan yang sudah ratusan tahun diperjuangkan. Dulu, waktu zaman masih sekolah, I had a love and hate relationship with that date. Tanggal merah yang tidak pernah benar-benar menjadi hari libur karena beragam kegiatan yang diadakan di sekolah. Mulai dari upacara bendera di pagi hari hingga aneka lomba yang memang terkesan unik.
Tentu saja, 17 Agustus juga menjadi momen di mana rasa nasionalisme naik dengan sangat tinggi seiring dengan dinaikkannya bendera merah putih. Saya sih dengan sadar diri, tidak pernah berusaha untuk masuk tim Pasukan Pengibar Bendera. Maklum saja faktor tinggi badan memang sudah pasti tidak mencukupi, jadi saya selalu menyimpan kekaguman (dan juga sedikit iri) tersendiri pada para pasukan yang mewakili sekolah kami dari mulai SD hingga SMA.
Begitu lulus SMA, salah satu hal yanng menyenangkan adalah tidak lagi ikut upacara bendera. Tidak lagi bangun pagi dan panas-panasan di lapangan upacara yang gersang. Walau tentu saja saya masih menikmati upacara pengibaran bendera dengan penuh bangga melalui layar kaca. Siapa sangka justru appel pagi yang dulu saya coba hindari kini menjadi aktivitas yang dinanti. Bahkan ketika di Paris saja, saya datang ke Wisma Duta untuk mengikuti upacara.
Cerita menarik datang ketika saya sedang mudik ke Indonesia tahun 2015 lalu. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya mudik bersama dengan suami dan dua orang sahabatnya. Begitu mendengar kabar bahwa tanggal 17 Agustus adalah tanggal bersejarah bagi Indonesia, mereka langsung bersemangat untuk mengikuti perayaan seperti orang lokal. Untungnya, saat itu, kami berempat sedang berada di Bandung, kota yang sudah saya kenal dengan baik.
Kami berempat berangkat pagi hari menuju lapangan Gasibu di pusat kota Bandung untuk mengikuti apel pagi bersama dengan warga Jawa Barat. Sebelum berangkat, Erwin seorang sahabat sibuk memberikan perlengkapan tempur berupa baju sepak bola Timnas Indonesia kepada Samuel dan teman-temannya. Berangkatlah kami berempat menuju Gasibu dengan tema merah putih (lengkap dengan bendera Indonesia yang sudah dibeli sebelumnya oleh Romain) menaiki angkot.
Setibanya di Gasibu kami mendengarkan upacara dengan seksama, walau tentu saja Samuel, Romain dan Louis tidak mengerti sama sekali pidato dari pembina upacara, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Walau demikian mereka sangat kagum melihat para pasukan pengibar bendera dan barisan murid-murid dari berbagai tingkatan pendidikan di depan mereka.
Tentu saja, seperti yang sudah bisa saya tebak sebelumnya, kami (atau lebih tepatnya mereka bertiga) mengundang banyak mata penasaran. Bisa dibayangkan tiga orang bule dengan seragam Timnas dan aneka atribut merah putih lainnya menonton upacara bendera. Saya rasa tanpa memakai atribut apapun mereka bertiga sudah sukses menarik perhatian, apalagi ini !

Ketika upacara berlangsung, banyak mata hanya memandang tanpa berani untuk menyapa. Namun, begitu upacara selesai, mereka semua seolah lepas dari kewajiban untuk berkonsentrasi penuh kepada kelanjutan acara dan mulai mendatangi ketiga bule gila tersebut.
Sapaan, permintaan foto, ajakan mengobrol tidak terhitung jumlahnya. Mereka menjawab dengan ramah dan tersenyum senang melihat langsung keramahan (dan kekepoan) orang Indonesia.
Dari mulai pertanyaan lumrah yang mereka bertiga bahkan sudah hapal jawabannya dalama bahasa Indonesia. 
 
Dari mana ?”
Sedang apa di Indonesia?”
Cinta dengan Indonesia?”
Kenapa cinta dengan Indonesia?”

Hingga pertanyaan paling random sekali pun.
kenal Zidane?!”

Akhirnya setelah beberapa lama, kami berempat bisa beranjak maju dari tempat kami berdiri sebelumnya untuk menyaksikan dimulainya pawai kemerdekaan. Romain yang memang sangat menyukai Vespa langsung berlari menyaksikan aneka model Vespa yang didekorasi dengan menarik. Sementara dua sahabatnya lain masih sibuk berfoto dengan banyak orang. Saya sendiri awalnya sibuk menjadi tukang foto, tapi dengan panasnya udara bandung di tengah hari akhirnya saya pun beranjak menjauhi mereka berdua dan pura-pura tidak kenal untuk menghindari profesi fotografer dadakan.
Rasanya, kami menghabiskan hampir dua jam untuk berfoto dengan para ratusan warga yang begitu antusias. Para tiga bule tersebut, tentu saja pada awalnya sangat senang karena merasa menjadi selebritas dadakan. Walau pun akhirnya mereka pun lelah diserang oleh panasnya cuaca. Bahkan ada satu wartawan media online yang juga mewawancarai mereka. Saat itu para bule merasakan bahwa ternyata menjadi selebritas itu memang bukan pekerjaan yang mudah. Saya sendiri sih lebih merasa menjadi manajer atau asisten para tiga bule yang sibuk melirik apabila orang yang mengajak berbicara tidak bisa berbahasa Inggris.
Setelah berhasil menghindari keramaian dan akhirnya bisa makan dengan tenang. Rupanya mereka bertiga sangat menikmati profesi selebritas tersebut. Mereka meminta saya untuk mengikuti perlombaan tradisional yang dulu sering saya ceritakan, yaitu panjat pinang. Ferli, sahabat saya pun bilang bahwa kami bisa mengikuti acara tersebut di daerah rumahnya di Pasteur.
Then here we go!
Mereka berangkat dengan penuh semangat untuk mengikuti dan bahkan berpartisipasi pada beragam acara. Para ibu-ibu sibuk memuji dan anak-anak pun mengikuti setiap pergerakan tiga bule dengan penuh semangat. Sorakan pemberi semangat diberikan oleh para warga saat mereka mencoba untuk megambil hadiah di atas pinang. Walau pun tentu saja, panjat pinang tidaklah mudah bagi siapapun. Bahkan bagi mereka yang katanya tinggi-tinggi. Setelah mencoba tiga kali dan akhirnya menyerah karena mendengar bunyi tulang belakangnya yang tampak agak retak, akhirnya para bule pun menyerah.
Hari itu menjadi acara tujuh belasan yang paling berkesan bagi saya dan tentunya bagi banyak orang lain. Bagi para warga di RT tempat perlombaan berlangsung, ratusan orang yang mengambil foto bersama mereka dan pastinya Samuel, Romain dan Louis hari itu menjadi hari yang meninggalkan banyak cerita. 

 
Begitu tiba di Prancis, bahkan hingga saat ini, mereka bertiga masih tidak lupa untuk menceritakan hari tersebut kepada kerabat dan sahabat. Hari di mana mereka bertiga berubah dari hanya sekadar turis menjadi selebritas dadakan. Hari di mana Samuel harus menderita sakit punggung selama beberapa hari dan akhirnya pergi ke tukang pijat karena perlombaan panjat pinang yang diikutinya dengan terlalu bersemangat. Hari di mana mereka para tiga bule Prancis, menyaksikan secara langsung keramahan (dan kekepoan) orang Indonesia.