Saturday, December 9, 2017

Visa Prancis : Short Family Visit

Pertengahan tahun 2016, saya mendapat kejutan menyenangkan dari host family saat saya Au Pair di Annemasse dulu. Keluarga kecil itu mengumpulkan dana bersama dengan sahabat-sahabat mereka yang sempat mengenal saya untuk membelikan tiket pesawat kepada Ibunda. Awalnya, mereka bersikeras untuk merahasiakan kejutan tersebut hingga hari kedatangan Ibu di Paris, namun tentu saja Kang Suami, langsung kepayahan untuk mengurus masalah VISA.

Akhirnya, Kang Suami pun mengumumkan kado penting tersebut yang berujung pada pembuatan (lagi-lagi) urusan dokumen yang tiada henti.

"Susah loh family visit itu, mending visa turis biasa saja!"

Itu adalah saran dari sebagian besar sahabat saya di grup Backpacker. Kenyataannya, memang dokumen yang diperlukan untuk visa turis biasa tidaklah serumit family visit. Tapi karena Ibu tidak bekerja dengan penghasilan tetap, maka saya tetap memilih jalur family visit. Tante saya, yang akhirnya ikut untuk sekalian berlibur mengajukan visa dengan visa turis biasa. 

Salah satu syarat penting untuk mengajukan visa family visit adalah Attestation d'Accueil atau surat undangan resmi yang bisa didapatkan di La Mairie. 

Berikut syarat-syaratnya :

  • Kartu identitas pengundang berupa KTP atau Paspor bagi WN Prancis atau Paspor dan Titre de séjours bagi WNA. Saya menggunakan kartu identitas suami karena saat itu TDS saya hanya berlaku satu tahun dan tidak bisa digunakan sebagai pengundang. 
  • Dokumen bukti kepemilikan atau sewa tempat tinggal (Titre de propriété atau Bail de location) 
  • Bukti tempat tinggal berupa rekening listrik atau telpon
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Bukti pajak (Avis d'imposition)
  • Surat pernyataan yang menyatakan akan menanggung semua keperluan selama di Prancis
  • Materai (timbres fiscaux) 30€
Kebijakan setiap kota berbeda, di Viroflay, foto copy dokumen harus diserahkan langsung kepada petugas La Mairie dengan menunjukkan dokumen asli. 

Tinggal menunggu beberapa hari untuk mendapatkan kembali Attestation d'Accueil yang sudah di-cap oleh Mr/mme Le Maire!

Setelah Attestation d'accueil di tangan, waktunya mengajukan visa ke TLS. Permohonan RDV online bisa dilakukan sebelumnya apabila yakin sudah bisa mengirimkan Attestation d'Accueil kepada orang yang diundang pada saat tanggal RDV yang diminta. 

Siapkan juga dokumen lainnya, yaitu : 

  • Formulir permohonan visa yang sudah diisi lengkap
  • Dua photos berwarna dengan ukuran 3.5 cm x 4.5 cm diambil paling lambat 6 bulan sebelumnya
  • Tiket booking PP
  • Travel insurance sesuai dengan tanggal permohonan
  • SLip gaji 3 bulan terakhir (Saya tidak menggunakannya karena Ibu saya tidak bekerja)
  • Bukti tempat tinggal berupa Attestation d'accueil untuk visa family visit atau booking hotel selama masa tinggal di Prancis. 
  • Surat keterangan dari kantor/surat pernyataan pensiun (Saya tidak menggunakannya)
  • Kartu keluarga
  • Surat pernyataan dari suami dan saya yang menyatakan akan membiayai semua keperluan selama di Prancis
  • Buku nikah (Livret de famille)/Acte de mariage
  • Akta lahir saya (untuk menunjukan hubungan dengan yang diundang
  • Paspor asli

Semua dokumen dibawa asli dan photo copy ke TLS Contact sesuai dengan jadual RDV yang diberikan. TLS sangat membentu karena saat itu ada dua dokumen yang kurang dan saya bisa mengirim langsung lewat email yang mereka berikan. 


Berikutnya tinggal menunggu kabar baik hingga 15 hari kerja. Saat itu saya cukup beruntung karena hanya menunggu selama 4 hari kerja dan paspor dengan tempelan visa sudah diberikan!

Ibu saya mendapatkan visa dengan masa berlaku 6 bulan dan izin tinggal selama 3 bulan padahal di permohonan kami hanya mengajukan permintaan visit selama 3 minggu. 

My mom and the Eiffel Tower


Bonnes chances!

Icha

Friday, December 8, 2017

Prancis dan Wisata Halal

"Benar nggak sih Mbak katanya jilbab itu dilarang di Prancis?"

Banyak yang bertanya mengenai aturan tentang jilbab di Prancis. Kami coba jelaskan sedikit ya!
Prancis adalah negara yang menganut prinsip "laicité", secara sederhana berarti memisahakan antara agama dan negara. Namun, negara juga menjamin kebebasan untuk beragama atau tidak beragama.
Tahun 2004 pemerintah Prancis mengeluarkan hukum yang melarang SEMUA penggunaan simbol agama di sekolah umum. Hal itu tidak hanya membuat larangan untuk memakai jilbab di sekolah tapi juga kalung salib dan kipa. Namun, perlu dicatat larangan ini hanya berlaku sampai tingkat SMA. Di dalam universitas larangan ini tidak berlaku, begitu pula di tempat umum (dalam hal ini, transportasi umum, jalanan, taman umum dll).
Oktober 2010, hukum tentang larangan pakaian yang menutup wajah di tempat umum diberlakukan di Prancis. Hukum tersebut secara otomatis membuat pemakaian Burka dan Niqab dilarang.
Ada banyak perempuan berjilbab di Prancis, terutama di kota-kota besar. Jadi bagi yang merencanakan untuk traveling di Paris tidak perlu khawatir!

Jilbab yang dilarang dan diperbolehkan di Prancis


"Saya ingin liburan ke Paris tapi takut katanya di sana gak muslim friendly ya?"

Di Paris ada beberapa daerah dengan banyak muslim, jadi tidak perlu khawatir dengan pilihan untuk makanan Halal. 


"Tapi susah nggak kayak di Indonesia." 

Pastinya pilihan makanan Halal tidak bertebaran seperti di Indonesia, negara dengan mayoritas muslim. Banyaknya, tempat makan Halal berupa kebab atau masakan Maroko dan Aljazair. Ingin mencoba gastronomi Prancis Halal juga bukan hal yang mustahil. Salah satunya, 

Le Jumeyrah 
101 rue Saint Maur
75011 Paris

"Tidak ada mesjid atau mushola?"
Sayangnya, tidak seperti di negara Jepang yang tetap menyediakan ruang ibadah di tempat umum seperti Outlet dan Bandara. Di Prancis tempat ibadah memang sedikit lebih sulit untuk ditemukan. Namun, ada Grande Mosquée de Paris, mesjid besar Paris dengan dekorasi khas mediteranian yang menyejukkan. 

Grande Mosquée de Paris

Mushola terdekat dengan Eiffel berada di Javel (Metro line 10) atau sekitar 20 menit berjalan kaki dari Eiffel. 

47 Rue de Javel 
75015 Paris

Paris adalah kota dengan beragam budaya jadi jangan takut untuk traveling ke kota ini!





Sunday, September 3, 2017

MAY DAY!! My baterie is gone!

Salah satu hal yang paling sering terjadi saat saya sedang jalan-jalan adalah kehabisan baterei! Tentu saja, kabel charger selalu tersedia di dalam tas tangan ke manapun saya pergi, tapi saya terkadang sering lupa membawa power bank :(

Alhasil saat sedang asyik hunting foto dan video saya pun kelabakan mencari tempat untuk men-charge smartphone saya tersebut. 

Di Paris, ada beberapa tempat tersembunyi di mana kita bisa men-charge handphone tanpa perlu repot, yaitu di halte tempat menunggu bus! Perhatikan baik-baik sisi halte tempat iklan seringkali dipasang. Nah, harta karun berupa colokan kabel USB tersembunyi di situ.

Yuk simak video-nya!


Coldplay Paris Concert

Cerita yang tertinggal dari konser Coldplay.

Tanggal 18 Juli 2017 yang lalu, saya berkesempatan menonton konser grup band yang saya suka dari jaman SMA dulu. Tiket dibeli dari bulan Oktober tahun sebelumnya, dan pastinya excited banget bisa nonton konser yang memang happening hingga ke Indonesia.

Hanya saja, saya melakukan satu kesalahan fatal....

Tiket konser tertinggal di rumah karena salah ambil dengan kuitansi pembayaran 

Pukul 19 pintu sudah mulai dibuka dan saya sudah di depan gerbang, tanpa tiket. Akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung pesan Uber untuk kembali ke rumah yang jaraknya lumayan dari Stade de France.

Supir Ubernya masih muda dengan mobil yang juga sangat ok.

Kami mengobrol dan akhirnya dia pun berjanji , "jangan khawatir! Anda tidak akan ketinggalan konser, I promise you!"

Si Mas Uber pun langsung melesat, di ring road kota Paris, dia melaju hingga lebih dari 150km/jam. 
Panik, saya cuma bisa bilang 
"saya mau nonton konser tp saya juga masih mau hidup"

Mas Uber cuma tertawa dan bilang "I know what I am doing, don't worry!"

Entah berapa lampu merah yang dia lewati dan berapa banyak supir yang teriak mencerca karena dia salip dengan sangat berbahaya tapi, WE MADE IT!

Saya tiba persis saat Coldplay mulai main safe and sound!


Sam dan Tukang Cukur

Saat berada di Prancis, saya adalah tukang cukur dadakan untuk Sam. Di Indonesia, Sam punya tukang cukurlangganan! Saya tidak pernah menyangka bahwa bule saya yang AJAIB ini ternyata lebih memilih untuk mencukur rambut di bawah pohon rindang di sekitar Kebun Raya Bogor dibandingkan di dalam mall yang ber-AC.

Alasannya, lagi-lagi tidak jauh berbeda dengan alasannya memilih pasar tradisional :

1. Memberikan uang sebagai tukar jasa kepada yang lebih membutuhkan
2. Harga lebih murah dengan hasil yang tidak kalah bagus

Awalnya, saya agak seram juga membiarkan Sam untuk potong rambut dan jenggot di sana. Apalagi ketika melihat bungkus produk yang digunakan, mulai dari spray untuk setrika baju hingga botol bekas kopi instant. Tapi ternyata, hasilnya cukup memuaskan!


Bahkan nih, satu minggu kemudian, saat tukang cukur ini sedang absen bekerja, Sam akhirnya pergi ke mall untuk mencukur jenggotnya. Dia marah-marah karena hasilnya sangat jelek!