Tuesday, January 17, 2012

Sepeda

Annecy, kota tempat dulu saya tinggal ketika berada di Prancis memiliki banyak jalur bagi para pengguna sepeda. Jalur tersebut berada di pinggir danau maupun di dalam pusat kota. Harga tiket bus yang mahal (1€60) membuat saya selalu berjalan kaki untuk pergi ke sekolah bahasa tempat saya belajar. Jarak rumah dan sekolah bahasa yang tidak kurang dari 5km membuat waktu tempuh dengan berjalan kaki menjadi hampur satu jam. Hingga akhirnya, rasa capek pun menghampiri karena saya tidak bisa terus-terusan berjalan kaki untuk menuju sekolah maupun berkeliling Annecy. Selain lebih melelahkan, Annecy adalah kota yang begitu cantik dan menarik untuk berjalan-jalan di dalam kota. Dengan berjalan kaki, saya tidak dapat menikmati keindahan kota dengan maksimal.

Keluarga penerima tempat saya tinggal sempat menawarkan sepeda mereka untuk saya gunakan sehari-hari. Sepeda yang dulu juga dipakai oleh au pair sebelumnya. Namun, ada hal yang harus saya akui, saya tidak pernah belajar bersepeda ketika berada di Indonesia. Saya tidak bisa bersepeda, memalukan memang. Saya pun tergoda untuk melihat sepeda tinggi yang berada di dalam garasi rumah tersebut. ia seolah menggoda saya untuk mencoba memakainya. Walaupun kali itu bisa dibilang merupakan kali pertama saya menyentuh sepeda.

Saya pun membawa sepeda tersebut ke sebuah tempat parkir besar yang terletak tidak jauh dari rumah. Setiap hari saya berlatih tidak kurang dari dua jam seorang diri di sela-sela waktu senggang yang saya miliki. Di tempat tersebut, layaknya anak kecil yang baru belajar bersepeda, saya terjatuh berkali-kali dan mencoba untuk tetap bangun meski kaki sudah dipenuhi oleh memar dan luka. Akhirnya sekitar satu bulan kemudian, saya pun memberanikan diri untuk mencoba bersepeda ke sekolah dengan melalui jalur khusus sepeda yang mengitari danau. Jalur tersebut lebih aman karena terpisah dari jalan raya yang menjadi jalur untuk kendaraan bermotor. and i surprisingly made it :)

Banyak orang sudah bisa bersepeda sejak mereka kecil dulu jadi mungkin, bagi sebagian orang bersepeda bukanlah hal yang luar biasa. Namun bagi saya hal tersebut menjadi pencapaian paling indah yang pernah saya raih di usia saya yang ke dua puluh satu tahun. Mungkin hal tersebut memang memalukan, lots would say that i should have learned it years ago but then i didn't go for a what if! Bersepeda dengan lancar di usia dua puluh satu tahun menjadi hal yang sangat membanggakan bagi diri saya. Because for me it's not just about knowing how to cycle but it proves that when you really determine to do something, and when you believe that you would do it then you will just make it!


My Very First Bike

Wednesday, January 4, 2012

What If Game :)

This is copy paste game but it sounds really fun :)

If you could go back in time and tell yourself something (besides the winning lottery numbers). I thought it would be interesting to hear some of your thoughts... Hopefully this wont bring up huge regrets- and hopefully it can turn into something fun!

I'll start:

i'd have said to my 7 years-old self :
Hey girl you're beautiful!

i'd have said to my 10 years-old self :
keep writing, don't listen to their laughs!

i'd have said to my 14 years-old self :
you should have listened to your Aunty!

i'd have said to my 18 years-old self :
Just let him go! It's for the best, you'll see it later!

i'd have said to my 20 years-old self :
it would probably a good idea to wait until you get graduated

i'd have said to my 21 years-old self :
you should leave that family, think more about yourself because then you'd realize that they don't even care about you

i'd say to present me :
If you had waited until your graduation, you wouldn't have met this family now, you wouldn't have learned more about yourself you wouldn't have met THE BEST boyfriend that you could have ever imagined and for sure you'd have stayed in your comfort zone. Nothing to be regretted, you learned something from your past anyway!

I read this quote from one of my friends and i simply love it ...

Regret is something you choose, for the most part I find that I regret more the things I didn't do. Life is too short for the what if's

Friday, December 9, 2011

welcoming picture

Seorang teman bertanya kenapa saya memilih photo sunset dengan batas pagar sebagai welcoming picture di blog saya. Awalnya saya hanya jawab bahwa photo itu adalah photo favorit saya. Photo yang saya ambil saat sedang berlibur di Gijon, Spanyol, di halaman tempat kemping dimana saya menginap. Rupanya jawaban tersebut kurang memuaskannya, menurut pendapatnya pasti ada alasan tersendiri kenapa saya begitu menyukai photo tersebut.

Pertanyaan yang membuat saya berpikir dan bertanya kepada diri saya sendiri, what makes me so in love with that picture. mungkinkah photo tersebut tidak berarti apapun bagi saya... Akhirnya saya mencoba sedikit berfilosofi dan nyatanya jawaban itu lah yang teman saya tunggu.

Di dalam photo ini saya melihat keindahan, bahkan mungkin kebahagiaan namun keduanya tampak begitu jauh dan terhalang oleh sebuah pagar besi yang membuat saya sangat ingin melintasinya. Kebahagiaan dan keindahan memang hanya bisa saya dapatkan saat saya bisa melintasi pagar besi tersebut. pagar besi yang nyatanya hanya ada di dalam pikiran saya sendiri...

So eventually, this picture is just my way to say : Go beyond your mind and get your own happiness because it is just right there ....

What come to your mind when you see that picture?

Bon courage Les Champions!!!


Wednesday, September 7, 2011

The (un) Ordinary Things

Untuk banyak orang Indonesia, makan durian, serangga-serangga yang banyak berkeliaran, sampai kelelawar besar mungkin hal yang biasa. Ternyata untuk orang yang berasal dari bagian lagi bumi seperti Eropa, hal tersebut bisa jadi istimewa bahkan sangat luar biasa!!!

Adakah yang bisa menggambarkan bagaimana rasanya durian? hmmmm... Buat saya sih baru mencium bau nya saja rasanya sudah penuh dengan air liur ini lidah, apalagi ditambah dengan rasa daging buahnya yang empuk dan lembut. Aduhai !!!! Durian memang sudah sangat terkenal di dunia. Terkenal karena wanginya yang khas dan sangat tajam dan kepopulerannya bertambah dengan sejumlah bandara dunia yang melarang masuknya durian ke negara mereka.



Banyak turis asing yang penasaran mencoba durian, saya yang terkadang bekerja sebagai guide freelance untuk turis Prancis seringkali harus memenuhi permintaan tamu yang ingin mencoba raja buah tersebut. Hampir tidak ada satu pun yang bisa makan satu biji buahnya saja. Semuanya menyerah dengan bau nya yang terlalu kuat, padahal baunya tersebut tidak jauh berbeda dengan bau beberapa keju Prancis yang sudah menghijau karena berjamur. Hanya ada seorang bule yang saya kenal yang menyukai durian dan bahkan ketagihan, and that person happens to be my boyfriend.

Di Prancis, Sam yang memiliki beberapa teman yang berasal dari Asia pernah mencoba durian yang berasal dari Kamboja, he didn't like it at all ! hal yang saya rasa wajar karena pastinya durian tersebut diimpor saat masih muda untuk menghindari baunya di bandara. Di Indonesia, saya menyarankan kepada Sam untuk mencobanya kembali. Wawan, sahabat saya langsung membelikan jus durian di sebuah supermarket besar untuk ia coba and he loved it!

Satu bulan kemudian, Imad membawa saya, Sam, dan beberapa muridnya untuk menikmati durian di 'puncak' nya Pasuruan. Kami duduk santai di dalam sebuah gubug penjual durian dan Sam terlihat sangat menikmati duriannya yang tengah ia makan, he ate a lot which was normal because those durians tasted so good ! Saat tengah menunggu durian pesanan kami dikupas, Sam dikejutkan dengan satu hal kecil yang kita tidak akan pernah sadari keistimewaannya.

"Hey, liat itu laba-laba besar BANGET !" Laba-laba yang dimaksud memang cukup besar but hey, we have a lot of those 'beasts' in this part of the world Monsieur :p

Voilà, laba-laba yang Sam lihat hari itu :



Sepulangnya dari Bromo, masih di Bangil, Pasuruan kami tengah duduk-duduk santai di teras rumah orang tua Imad yang nyaman melihat kucing-kucing peliharaan mereka tengah berlari-lari di halaman. Lagi-lagi Sam berteriak histeris,

"Liat itu belalang GEDE BANGET" belalang yang dimaksud adalah congcorang yang (lagi-lagi) biasa kita lihat di kebon (with an 'o' not 'u') rumah kita. Sam yang biasanya tidak suka mengambil photo langsung mengambil alih kamera yang ada di tangan saya dan memotret kucing dengan belalang tersebut, agar bisa terlihat betapa BESAR nya belalang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Voici, sang belalang yang GEDE BANGET itu,



Diantara semua hal biasa yang bule anggap istimewa, ada satu yang paling Sam sukai, yaitu tanaman putri malu. Tanaman jenis rumput yang sangat sensitif ini menarik perhatian Sam lebih dari yang lainnya. Kami sedang hiking untuk kemping di Baru Beureum, camping ground yang ada di kaki gunung Manglayang, Bandung. Saya yang ingat bahwa di Prancis tidak ada tanaman tersebut langsung menunjukkannya kepada Sam.

"Liat, ini tertutup kalau kita sentuh atau tiup"

Ternyata reaksi Sam sangat jauh di luar ekspektasi saya. Ia sangat menyukai tanaman unik tersebut dan sepanjang perjalanan menuju Baru Beureum yang ia lakukan adalah menginjak putri malu dan melihatnya menutup. Bahkan saat menjelang hari-hari terakhirnya di Indonesia, saya yang sangat sibuk bertanya oleh-oleh apa yang ia inginkan untuk dibawa pulang ke rumah, dengan polosnya ia balik bertanya.

"Dimana bisa beli bibit putri mau yah Pacar?"

Akhirnya beberapa teman saya pun sibuk mencarikan putri malu untuknya sebelum kami berangkat ke Bandara. Ia sengaja mengosongkan tas punggung kecil yang akan ia bawa bersamanya untuk beberapa putri malu yang sudah ia masukkan ke dalam botol plastik Aqua. Ia begitu senang bisa membawa putri malu pulang ke Prancis dan berjanji untuk merawatnya dengan baik, hingga ...

"Sorry you cannot bring this thing on board with you" ucap petugas bandara saat Sam akan melakukan check in pesawat.

"Ini untuk oleh-oleh, di Prancis tidak ada putri malu" ia membela diri dengan bahasa Indonesia yang masih patah-patah.

"Tidak bisa" ucapnya tegas.

Sam langsung membawa botol-botol aqua berisi putri malu tersebut kepada saya yang masih menunggu di pintu keberangkatan. Ia tampak sangat kesal dan masih tidak bisa mengerti mengapa mereka melarangnya membawa putri malu. Untung saja Sam telah mengambil banyak photo dan video putri malu sebelumnya *lol

Saat saya bersama Samuel, walaupun kami tidak sedang bertualang ke tempat-tempat wisata yang terkenal dan indah namun selalu ada saja hal baru yang saya pelajari. Saya kembali menyadari bahwa kami berdua betul-betul berbeda dan hal itu justru membuat hari-hari menjadi lebih indah karena saya dapat belajar melihat sesuatu yang sebelumnya saya anggap biasa menjadi hal yang luar biasa unik. I learn how to see things differently, just like him when i was there in Europe, i guess :)

Icha

Musuhnya Mas Bule

Pertama kali datang, he knew nothing about the country siapa sangka justru akhirnya ia menemukan dua musuh baru di Indonesia ;)

Musuh Nomor 1 : NYAMUK

Saat kami harus menginap di Jepara karena K.M Muria yang pergi ke Karimun Jawa sudah over capacity. Kami berdua dan rekan-rekan satu tour yang baru saling kenal akhirnya terpaksa tidur di sebuah asrama buruk rupa yang ada di pinggir pantai Kartini dengan membayar tambahan Rp. 20.000/malam saja. Harga memang gak pernah bohong, asrama tersebut sungguh tidak layak huni! Kondisinya sangat kotor dan cukup menjijikkan, ada banyak sarang laba-laba dan tampak jelas bahwa asrama tersebut sudah berbulan-bulan tidak mengenal sapu. Kamar mandi nya tidak kalah jorok, air nya yang agak payau mash harus ditambah dengan kondisi lantai dan dinding yang kotor serta tanah yang terlihat jelas di lantai bak mandi yang terisi penuh air.

Di dalam asrama terdapat dua kamar besar dengan banyak tempat tidur, pembagian kamar pun berdasarkan gender. Saya tidur bersama teman-teman baru dari Bandung dan Surabaya. Sebelum tidur, seperti biasa perempuan memang paling suka ngerumpi, kami mengobrol ngalor-ngidul tentang pekerjaan dan kesibukan masing-masing hingga akhirnya saya mendengar teriakan histeris dari luar kamar.

"AHHHH INI MAS BULE NGAPAIN?" kami semua yang berada di kamar langsung berlari keluar dan teman-teman saya hanya bisa tertawa terbahak-bahak sementara saya kebingungan. Setra, salah satu teman baru dari Bandung sangat terkejut karena 'menemukan' Sam sedang berusaha keras untuk tidur di lantai teras luar asrama. yeah... kalian gak salah baca, ia terlentang di dalam sleeping bed tipis nya di LANTAI TERAS LUAR ASRAMA.

"Pacar, kamu ngapain tidur di luar?" saya bertanya.

"Aku gak tahan di dalam banyak nyamuk, baru terlentang udah bentol lima"

"Kamu gak apa-apa tidur di sini?"

"Lebih baik disini dari pada harus donor darah di dalem" Ucapnya polos.

Saya pun akhirnya menggelar kasur tepat di sebelahnya untuk menemani Mas Bule yang satu ini. Surprisingly, it actually worked, udara di luar sangat sejuk dan pas untuk tidur dengan semilir angin pinggir pantai. Nyamuk masih ada beberapa tapi memang tidak sebanyak yang menggigit saya di dalam kamar asrama.

Keesokan harinya teman-teman saya boleh menertawakan kekonyolan Sam tidur di teras, tapi ternyata kami berdua lah yang paling sedikit tersentuh oleh musuh nomor satu Sam di Indonesia, nyamuk ! Setelah kejadian tersebut kami membeli obat anti serangga yang banyak digunakan di Indonesia dan selalu membawanya di dalam backpack selama perjalanan kami mengelilingi Jawa dan Bali.

Saat saya dan Sam menginap di rumah Imad, seorang sahabat di Bangil, Pasuruan, Sam sangat kaget melihat banyak nyamuk yang terbang bergerombol dengan santainya di atas kepala orang-orang yang sedang mengobrol di teras. Dengan wajah kejam penuh kegemburaan, ia pun beraksi dengan menyemprot nyamuk-nyamuk tersebut dengan obat anti serangga kebanggaannya.

Musuh No.2 Matahari

Sad but its true, Sam mengalami hari paling menyenangkan sekaligus paling buruk di Karimun Jawa. Saat itu kami berdua lupa membawa sun cream yang seharusnya ia gunakan saat beraktivitas di luar ruangan dengan paparan sinar matahari. Bagi saya sih matahari 'hanya' akan membuat kulit bertambah hitam tapi tidak cukup kuat untuk membakar, ternyata untuk Sam lain lagi ceritanya.

Setelah aktivitas snorkeling pertama yang kami lakukan, kulit Sam yang bule langsung berubah menjadi semerah udang rebus yang baru diangkat dari panci. Parahnya lagi, bukan cuma warna saja yang mengganggu tapi juga perih terbakar yang ia rasakan. Saya bisa melihat betapa ia sangat menderita karena harus menahan rasa sakit yang membakar kulitnya. Bahkan saat saya tidak sengaja menepuk bahunya saja ia langsung menjerit kesakitan. Saya langsung bersyukur dilahirkan dengan kulit 'sekuat' kulit saya sekarang ini.Belajar dari kesalahan tersebut, maka pada hari berikutnya, ia selalu menghindari sinar matahari dan memakai kaos bahkan saat sedang menyelam sekalipun. He was being so wise with himself !

Moral Lesson : Always bring Baygon and sun block in your backpack when you are traveling with bule !!!

Icha