Friday, October 2, 2009

Ruang Budaya

Saat kami berada di Itali, kami mengalami kesulitan untuk mendapatkan host di Milano dan Torino, hingga akhirnya kami harus (dengan senang hati) memperpanjang masa tinggal kami di Verona dan membatalkan rencana pergi ke Milano. Kami pun memasukkan SOS request ke emergency group Torino yang mendapat banyak tanggapan positif, salah satunya datang dari Christian, yang tinggal sekitar satu jam dari Torino, di sebuah kota kecil yang tidak pernah kami dengar sebelumnya, Casela Monferrato.

Kami memutuskan untuk akhirnya pergi ke tempat Christian setelah melihat profile nya di couchsurfing yang begitu menarik dan memilki banyak cerita. Christian memiliki sebuah proyek untuk kotanya, yang bernama ruang budaya, dia menerima para relawan dari berbagai negara untuk bersama-sama melakukan kegiatan untuk kota tersebut. Kegiatan apapun bebas dilakukan, mulai dari mengajar bahasa ibu mereka hingga creambath atau pijat refleksi.



Saat saya datang ke sana ada seorang relawan dari Jerman yang sedang tinggal, Jasmin. Bersamanya lah Christian mengadakan sebuah acara makan malam untuk menyambut kedatangan kami berdua di ruang budaya. Acara yang diberi nama "Selamat Datang" ini dihadiri oleh beberapa teman-teman Christian yang senantiasa menghadiri acara-acara ruang budaya.

Christian merupakan pribadi yang menarik, ide-ide gila traveling yang berada di kepalanya sungguh membuat saya berimajinasi tentang traveling yang paling gila. Dia menceritakan kepada saya pengalamannya di gurun pasir amerika selatan dan berbagai petualangan yang dia lakukan saat traveling. Saya sangat ingin pergi bersamanya saat mendengar rencana perjalanannya januari 2010. Dia akan pergi ke salah satu kota paling miskin dan paling kering di Brazil hanya dengan uang seadanya, untuk hidup bersama mereka di dalam pavela dan melihat bagaimana anak-anak di sana hidup, untuk melihat apa yang bisa dia lakukan untuk mereka. This time is when i say that i really want to be a man. Saat bisa memutuskan untuk bertualang dengan imajinasi gila sekalipun.



Di ruang budaya saya menemukan sebuah kotak yang bernama kotak karma, saya mengambil satu kertas di dalamnya dan saya harus melakukan apapun yang kertas itu perintahkan, saya mendapatkan kertas dengan perintah untuk mencari dua sampah berguna di setiap tempat sampah di sudut kota. Menurut Jasmin, kotak lain ada yang berisi perintah untuk menyapu salah satu sudut kota atau mengajak salah satu warga kota untuk minum kopi di ruang budaya. That box was a really great idea! bukan untuk ngerjain orang tetapi untuk berbagi.

Maka siang itu saya mengelilingi kota dan mulai "hunting" sampah berguna, and i swore to you that it wasn't easy at all. Saat saya mengorek-ngorek sampah ada beberapa orang yang memperhatikan saya dengan pandangan aneh, namun pandangan tersebut saya acuhkan dan saya terus mengorek dari satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya hingga saya menemukan pita kado yang masih cukup panjang untuk digunakan dan sebuah t-shirt gombrong yang tentunya bisa dipakai untuk pekerjaan rumah.



Kanthy mengajukan diri untuk mengajar tarian betawi dengan senang hati, maka malam itu, pamflet untuk workshop tari pun dibuat, dan keesokan harinya kanthy mengajar menari kepada Jasmin dan salah satu anak muda Casale yang tertarik untuk belajar menari betawi. Hal yang sangat unik dan mengharukan melihat di Itali, negara yang cukup jauh dari negara kita, ada orang asing yang masih ingin belajar tarian tradisional, sedangkan saya sendiri tidak pernah membayangkan diri saya belajar tari sebelumnya di Indonesia, hal yang hingga saat ini saya sesali. I could've presented my country better if only i could do at least one of indonesian traditional dance.



Saya pasti akan kembali ke Casale Monferrato suatu saat nanti, kali ini bukan sebagai tamu couchsurfer tetapi sebagai relawan di ruang budaya, untuk berbagi tentang apapun yang saya tahu dan untuk menyerap banyak ilmu baru sambil belajar bahasa italia tentunya ;-)

Bisous
Icha

0 comments: