« Icha, on est sœurs pour toute la vie, c'est vrai, hein? » Ucap Lola riang sambil memegang erat tangan saya di tengah perjalanan menuju rumah.
Saat itu kami baru saja selesai menghabiskan waktu di taman kota yang terletak agak jauh dari rumah. Lola yang biasanya mengeluh karena harus berjalan kaki menuju taman tersebut kali itu lebih banyak bercanda dan tertawa. Ia selalu senang menghabiskan hari panjang musim panas di taman kota. Walaupun mengeluh karena harus menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki namun begitu tiba di sana ia langsung berlari di rerumputan sambil mengajak saya bermain.
Hampir satu tahun sudah saya tinggal bersama keluarga ini. Lola membawa saya menjadi bagian dari keluarganya. Semuanya berawal dari sebuah pengumuman kecil yang saya pasang di internet, mencari host family baru untuk menggantikan host family saya sebelumnya dimana semuanya berakhir buruk.
Pada awalnya saya hanya pasrah, keinginan untuk tinggal lebih lama lah yang membuat saya akhirnya memilih keluarga itu. Namun ternyata tidak hanya pekerjaan sebagai baby-sitter yang saya dapatkan tapi juga sebuah keluarga baru.
Lola adalah seorang anak yang cukup unik, ada banyak cerita yang selalu membuat semua orang tertawa dibuatnya. Gadis berusia lima tahun ini sangatlah jahil, hal tersebut karena kedua orang tuanya sendiri adalah orang tua yang cukup unik dan sangat berjiwa muda. Mereka tidak hanya membesarkan lola dengan penuh cinta tapi juga tawa dan canda.
Terkadang anak ini membuat saya kewalahan dengan candaannya. Bayangkan saja, anak TK yang senantiasa membuat semua orang yang melihatnya gemes ini terkadang bisa berubah menjadi seorang anak yang jahilnya bukan main. Karena tidak berani untuk berbuat jahil kepada kedua orang tuanya, maka seringnya saya menjadi korban kejahilan bocah tersebut.
Saya pun teringat sebuah kejadian pada awal kedatangan saya di keluarga tersebut.
« Icha... uhuk.. uhuk.. » Ucapnya sambil terbatuk-batuk.
« Kenapa sayang? » Tanya saya agak panik melihatnya batuk.
Saat itu kami berdua sedang berada di kamar saya. Lola tengah sibuk bermain di atas kasur sedangkan saya sibuk surfing di internet.
« Aku gak se-nga-ja ne-len kan-cing ba-ju ka-mu ta-di uhuk uhuk uhuk » ia tampak berusaha untuk mengeluarkan sesuatu yang ada di tenggorokan kecilnya itu sambil terus terbatuk-batuk.
Wajah saya langsung berubah pucat pasi. Saya ingat betul bahwa kancing baju yang akan saya jahit memang berada di atas bantal saya dan saat itu kancing besar tersebut sudah tidak ada lagi di tempat asalnya.
Dengan penuh kekhawatiran saya menggendong Lola untuk membawanya ke ruang tamu, disana kedua orang tuanya tengah menonton TV.
« Sabar yah saya bawa kamu ke Mama »
Melihat kepanikan saya tersebut Lola tersenyum jahil penuh kemenangan dan kemudian tertawa terbahak-bahak.
« I got you! Jangan bilang Mama, aku cuma bercanda hahahaha» tawa kecilnya langsung mebuat hati saya plong. Ia pun menunjukkan kancing baju saya yang ternyata sudah ia simpan di saku celananya.
« How dare you ! Aku beneran khawatir barusan! » hati saya lega karena ternyata Lola tidak menelan bulat-bulat kancing merah tersebut namun di sisi lain saya juga dipenuhi oleh kemarahan karena bocah lima tahun tersebut teah berhasil menipu saya mentah-mentah.
Ketika saya bercerita tentang kejahilan Lola kepada kedua orang tuanya, mereka berdua tampak sangat kaget dan tertawa.
« Ahh Icha, pinter banget yah dia, tapi kalau saya jadi kamu pasti sudah marah besar! » ucap Isa sambil tertawa.
« Yah jangan marah dong, gak asik banget kalian berdua » bela Eddy, sang Ayah yang juga memang selalu menjadikan saya dan Isabelle sebagai objek kejahilannya yang tiada henti. Hari itu ia tampak sangat bangga terhadap kejahilan Lola.
Lola yang merasa dibela hanya bisa tersenyum kecil dan membela diri.
« Iya Icha, aku kan cuma bercanda, jangan marah dong !!! »
Lola, bagaimana bisa saya marah padanya, setelah melihat wajah bagai malaikat tanpa dosa itu tersenyum bangga akan kejahilannya.
Cerita tersebut hanyalah satu dari banyak kenangan indah yang tidak akan saya lupakan saat saya berada di rumah keluarga kecil tersebut.
« Icha kalau udah pulang ke Indonesia, jangan lupa kalau ada adiknya di Prancis yah! » ucapnya sambil menikmati akan malam terakhir saya di rumah itu.
Rumah yang telah menjadi tempat saya berlindung selama satu tahun terakhir. Rumah dimana saya melihat arti sesungguhnya keluarga. Rumah penuh tawa, canda dan tanpa setetes pun air mata hingga akhirnya tetesan itu pun turun, di saat terakhir saya di rumah ini. Air mata penuh kesedihan karena saya akan meninggalkan mereka yang saat itu telah menjadi bagian dari diri saya, telah menjadi keluarga baru saya.
« Rien n'est fini mais tout commence. Tu es entrée dans notre vie maintenant tu fais partie de notre famille... tu es sa grande sœur pour la vie et notre grande fille de cœur »
Icha

3 comments:
Miss you so much!!!
Forever in ours heart and forever in ours life!
What a chance for us to meet you during one year...only one year!
But it's just the beginning of a such wonderful history beetween us!!!
See you soon here or so far...
The mother of your Lolita!
i shed a tear reading this post. i hope one day you will see your french family again!
serina.
Speechless, hikss..
Post a Comment