Pernah mendengar istilah au pair ? Saya sendiri baru mendengar istilah tersebut di tahun kedua perkuliahan saya. Au pair adalah sebuah program yang memungkinkan semua orang berusia antara 18 hingga 30 tahun dari semua negara di berbagai belahan dunia untuk dapat mempelajari bahasa dan budaya negara yang dia inginkan dengan bekerja menjadi baby-sitter atau pengasuh anak di negara tersebut. Rata-rata negara yang memiliki sistem au pair sebagai asisten maternal berada di benua Eropa. Sistem ini sangat populer di negara-negara Eropa Barat dan Skandinavia.
How to be an au pair ?
Program ini sudah ada di benua Eropa dan Amerika utara sejak puluhan tahun yang lalu, bahkan jauh sebelum keberadaan internet. Saat itu keluarga dan au pair saling mencari melalui jasa agen yang hingga saat ini masih juga banyak digunakan. Popularitas au pair dikarenakan budaya menjaga anak yang sangat berbeda dengan budaya kita di Indonesia. Kesibukan kedua orang tua yang bekerja menjadi alasan yang paling umum di dalam keluarga pengguna jasa ini. Dengan menggunakan au pair kedua orang tua berharap dapat bekerja dengan leluasa saat para au pair menjaga anak-anaknya seperti layaknya seorang kakak menjaga adiknya sendiri.
Au pair terbuka untuk pria dan wanita yang berusia antara 18 hingga 30 tahun. Walau hingga saat ini jumlah au pair wanita masih jauh lebih banyak dari pada au pair pria, namun bukanlah hal yang mustahil untuk menjadi au pair bagi kaum adam. Batasan umur spesifik untuk menjadi au pair tergantung dari hukum di negara tempat kita mendapat keluarga. Untuk informasi lebih lanjut mengenai negara-negara penerima au pair dan peraturan di negara tersebut, beberapa website yang dapat dipercaya antara lain ; www.aupair-world.net dan www.greataupair.com. Di website itu pulalah terdapat banyak tawaran untuk menjadi au pair di berbagai negara penerima.
Sebenarnya menjadi au pair hampir sama seperti berjudi karena kita tidak tahu keluarga seperti apa yang menanti kita di negara nan jauh di sana. Di lain pihak, keluarga yang penerima atau host family juga mengambil resiko dengan menerima orang asing untuk tinggal dan mengurus buah hati mereka. Oleh karena itu banyak keluarga dan mahasiswa au pair yang memilih melalui jalur agensi yang di Indonesia bisa ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Agen menjadi pilihan yang cukup bijak mengingat resiko yang diambil oleh kedua belah pihak pun sangat besar. Hak dan kewajiban au pair hampir serupa disemua negara, yaitu sebagai seorang baby-sitter yang juga menjadi bagian dari keluarga untuk bisa mempelajari bahasa dan budaya negara penerima. Program au pair diharapkan dapat menjadi simbiosis mutualisme dengan basis kesetaraan dan berbagi budaya yang jauh dari perbudakan.
Banyak orang yang bermimpi untuk pergi keluar negeri, terutama ke benuar Eropa, maka au pair memang bisa menjadi salah satu solusi untuk dapat mewujudkan mimpi besar tersebut. Rasa menggebu-gebu untuk bisa berangkat sering kali menjadi hal yang membuat para calon au pair lupa akan resiko yang sebenarnya menanti. Kepala yang dingin, diskusi dengan teman dan keluarga serta keyakinan bahwa akan ada keluarga yang menyambut harus bisa memimpin dalam pencarian calon keluarga penerima. Pencarian pun bisa berlangsung mulai dari satu minggu hingga lebih dari satu tahun.
Tinggal di rumah orang yang betul-betul asing dengan budaya yang berbeda memang menjadi tantangan tersendiri. Kesalahpahaman banyak terjadi terutama karena gaya hidup dan pola pikir yang pastinya tidak sama. Dari pengalaman itulah kita dapat mempelajari banyak hal. Mulai dari belajar membuka diri pada perbedaan hingga akhirnya bisa menghargai perbedaan tersebut dan memandangnya sebagai kekayaan dan bukan kekurangan.
Because to travel is to discover, isn't it?
To be continued ...
0 comments:
Post a Comment