Wednesday, August 24, 2011

Festival Musik 2009

My first long hicthing alone

Untuk melatih diri dengan hitch hike, saya mencoba ber hitch hike dari Annecy menuju Lyon seorang diri. Saya pergi ke Lyon untuk fête de la musique, festival musik tahunan yang diadakan setiap tanggal 21 Juni oleh beberapa negara Eropa, terutama Prancis dalam rangka perayaan hari pertama musim panas.

Tanggal tersebut dipilih karena merupakan hari dimana matahari bersinar paling lama di Eropa, hari pertama musim panas. Menurut kabar yang saya dengar musik dimainkan diberbagai sudut jalan di Prancis, di kota maupun di desa. Hitch hike kali ini berhasil dengan baik walaupun saya harus berjalan cukup jauh menuju pintu keluar Annecy karena memasang jempol di dalam kota memang termasuk cukup sulit. Hari itu, saya semakin jatuh cinta dengan hitch hike. Pasangan yang membawa saya menuju Lyon adalah pasangan yang hidup dengan penuh rasa spiritual, guru yoga dan juga seorang ahli astrologi dan yang lebih aneh lagi ternyata guru yoga adalah orang yang sempat belajar pencak silat, di sini, di negara yang berada di belahan dunia lain dari negara saya, lagi-lagi saya harus merasa malu karena orang lain lebih mengenal negara saya dari pada diri saya sendiri.

Kamu percaya sama yang namanya spirit?” tanya Fabien, sang guru yoga.

Percaya, spirit itu ada di mana-mana, seperti juga setiap orang memiliki auranya masing-masing” jawab saya.

Guru yoga saya di India tadi malam menghampiri saya lewat mimpi, di dalam mimpinya dia bilang saya akan bertemu seseorang petualang muda yang berasal dari benuanya”

Oh yah?” saya sangat terkejut dengan penjelasannya, mungkinkah petualang muda yang dimaksudkan oleh guru yoga tersebut adalah saya.

Saya percaya petualang muda itu adalah kamu, oleh karena itu saya yang biasanya tidak pernah mengambil orang yang hitch hike di jalanan sekarang mengambil kamu dan akan mengantar kamu hingga tempat tujuan kamu di Lyon” Fabien menjelaskan kepada saya tentang alasannya mengambil saya saat itu sambil tersenyum ramah. “Saya percaya akan adanya spirit di setiap tempat, masing-masing tempat di alam ini memiliki sesuatu yang menempatinya dan begitu juga dengan kita. Aura kamu terpancar dengan sangat jelas saat saya melihat kamu sendirian di pinggir jalan barusan, dan saya langsung tahu kamu bukan orang jahat yang akan merampok dan membunuh saya di mobil” tambahnya lagi.

Saya tidak punya kesempatan sama sekali walaupun saya berniat merampok dan membunuh, dengan badan kecil seperti saya, apa yang bisa saya perbuat, justru para pengendara mobil yang memberi saya tumpanganlah yang memiliki kesempatan paling besar untuk menjahati saya” Balas saya.

Fabien mengantar saya hingga stasiun kereta Lyon dimana Kanthy akan tiba dan di situ pula lah Sébastien akan menjemput kami berdua. Kanthy turun dari kereta dengan koper super besar untuk pulang ke Indonesia. Kami yang tidak terlalu saling mengenal saat di Indonesia merasa seperti dua orang saudara yang baru dipertemukan kembali. Sepuluh bulan sudah kami berada di Prancis, bercakap-cakap lewat internet hingga akhirnya merencanakan untuk traveling bersama dan baru kali ini kami berdua akhirnya bertemu, bukan di Annecy ataupun Paris dan Marseille, namun di Lyon, dimana tahapan baru petualangan kami di benua biru akan dimulai.

Pertemuan kembali

Icha …................. !!!!!!!” teriak Kanthy sambil berlari dengan koper besarnya menuju tempat dimana saya menunggunya.

Kanthy ….... !!!!!!!!!!!!” saya pun ikut berteriak dan berlari menuju Kanthy.

Pernah melihat adegan slow motion saat dua orang kekasih yang baru bertemu setelah perpisahan panjang di sebuah film produksi Bollywood ? Kalau saya bisa mendeskripsikan pertemuan kami berdua saat itu, mungkin itu adalah penggambaran terbaik. Di sebuah peron stasiun kereta api dengan banyak orang berlalu lalang di samping kami berdua. Kami seolah tidak peduli dengan mereka semua, saat itu yang ada hanyalah perasaan gembira bertemu dengan satu orang sahabat dengan siapa kami akan menghabiskan waktu dalam dua bulan kedepan.

Sébastien datang beberapa saat kemudian menjemput kami di depan sebuah tempat parkir bawah tanah.

Salut Icha, ca va ? Sudah lama kita gak ketemu yah!” sapa Séb hangat -masih dengan senyumannya yang dulu saya kenal-.

Saya pun memperkenalkan Kanthy kepada Séb dan menjelaskan betapa senangnya kami bisa merayakan fête de la musique bersama di Lyon. Saya juga sudah menceritakan kepada Kanthy mengenai betapa konyol dan tampannya Sébastien mulai bertanya dalam bahasa Indonesia kepada Kanthy mengenai pendapatnya.

Ganteng kan Thy ? Lu liat deh nanti, dia juga konyol banget, aduh simpatik banget deh gue sama dia”

Belum sempat Kanthy menjawab pertanyaan retorik saya tersebut, Séb sudah memotong pembicaraan kami.

Hééé.. pake bahasa Prancis dong, kalian di sini buat belajar bahasa kan ? Lagian kalian pasti ngomongin saya deh” liriknya tajam.

Hahaha.. maaf deh, gak apa apa dong kan udah lama juga kami gak punya kesempatan ngobrol dalam bahasa Indonesia” jawab saya sambil tertawa.

Perasaan gembira saya tidak bertahan lama, karena ternyata Sébastien tidak menjemput kami seorang diri, di dalam mobil nya sudah ada seorang gadis cantik berambut pirang yang menunggu.

Icha, Kanthy ini kenalin Jenna, dia juga bakalan bareng sama kita di fête de la musique, dia baru datang dari Amerika kemarin”

Cha, siapa tuh ? Pacarnya?” tanya Kanthy.

Gak tau Ty, semoga aja bukan deh” jawab saya dengan nada lemas, hilang sudah semangat merayakan fête de la musique. Merayakannya bersama Séb merupakan alasan utama mengapa saya memilih pergi ke Lyon.

Tentu saja hal tersebut tidak boleh membuat saya menjadi tidak menikmati fête de la musique yang sudah saya nanti-nantikan. Apalagi Jenna merupakan seorang perempuan yang baik dan penuh rasa ingin tahu. Bersamanya selalu membuat pembicaraan terasa lebih nyaman dan lebih hidup. Walaupun Séb ternyata dekat dengan Jenna, saya tidak kecewa karena mereka berdua sangat pantas bersanding bersama. La fête de la musique était supér1!!!!!

Tepat seperti yang selalu saya bayangkan sebelumnya, hari terpanjang dalam satu tahun ini menjadi hari yang tepat untuk perayaan seperti itu. Beragam jenis musik dimainkan di sepanjang jalan hingga dini hari. Saya, Kanthy, Sébastien, Jenna bernyanyi gembira sambil berdansa diiringi alunan musik hingga pagi hari berikutnya di jalanan Lyon bersama ratusan orang lainnya.

Kami berjalan menyusuri sungai dan mulai menjelah Lyon dari satu tempat ke tepat lainnya tanpa betul-betul mengetahui tujuan kami sebenarnya. Saat itu alunan musiklah yang menjadi tuntunan kami. Kami sempat berhenti di tengah sebuah konser musik elektro di depan sebuah restoran yang membuat beberapa teman Sébastien sibuk berdansa dan mengajak kami untuk bergoyang bersama mereka. Saat alunan elektro sudah mulai membuat telinga kami bosan, kami pun berjalan menuju sebuah taman dimana musik terompet à la musik ska dikumandangkan.

Tanpa tahu arah kami hanya berjalan mengikuti keramaian. Musik samba khas Brazil mengundang kami untuk mengikuti pawai mereka. Saat itu mereka berjalan dari arah pusat kota Lyon mengitari jalanan-jalanan kecil untuk naik ke kawasan tinggi Lyon. Jalur yang cocok untuk kami karena kawasan itu merupakan tempat Séb tinggal.

Allez les gars, on les suit! 2 ajak Sébastien dengan penuh semangat.

Kami pun mengikuti Séb untuk mengikuti pawai samba Brazil. Musik dengan irama yang riang ditambah beberapa gadis Brazil yang berada di garis depan pawai menari dengan lincahnya membuat saya, Kanthy, Jenna, Séb dan beberapa teman lainnya berdansa dengan riang gembira hingga pagi tiba.

We dance, we sang and we did that all night long until the sun came out to get us back to sleep.


Keesokan harinya Séb mengantar kami bertiga menuju stasiun kereta. Jenna mengundang kami berdua untuk pergi ke Chambéry menonton penampilan théater seorang sahabatnya. Sepanjang perjalanan menuju Chambéry kami banyak mengobrol.

Kalian sering couchsurfing?” tanya Jenna.

Iyah kalau saya sering, untuk Khanty ini merupakan pengalaman pertamanya” jawab saya.

Pernah cinta lokasi sama host CS?” tanya nya tiba-tiba.

Pertanyaan Jenna cukup membuat saya terkejut. Saya memang bersimpati kepada Séb namun hingga saat ini belum pernah ada host CS yang berani menggoda saya selama saya couchsurf di rumah mereka. Saya selalu merasa bahwa CS sama sekali bukan sebuah dating site jadi saya pun hanya sebatas bersimpati dan tidak pernah berani mencoba untuk melakukan hal lebih.

Selama ini sih gak pernah, Jenna pernah?” Saya balik bertanya.

Hmm.. if you could say it like that, lagian wajar kan suka sama couchsurfer lain, mereka orangnya memang asik-asik sih, suka traveling juga, tapi yah kalau untuk berlanjut serius sih kayaknya memang susah karena masing-masng sudah punya hidupnya sendiri dan kita cuman turis yang numpak lewat, istilahnya cuman cerita cinta musim panas aja lah” jawabnya diplomatis.

Rasanya saya tahu dengan siapa” tebak saya penasaran. Pertanyaan yang satu itu hanya dijawab oleh senyuman kecil. Saya melirik sebentar kearah Kanthy yang juga tersenyum dan berkata dalam bahasa Indonesia.

Buset berani bener lu Cha” komentarnya sambil menahan tawa.

Penasaran Thy”

Senyuman Jenna memberi jawaban tersendiri bagi saya, senyuman kecil yang saya artikan sebagai iya. Apalagi saya juga melihat kedekatan mereka malam kemarin, kedekatan yang cukup membuat saya terbakar rasa cemburu yang seharusnya tidak saya miliki. Saya, seperti hal nya Jenna cenderung memilih untuk tidak menggunakan perasaan saat ber couchsurfing. Satu alasan yang sangat jelas karena we never know when we'll see each other again. Kami sudah memiliki hidup dan rencana masing-masing.

Hasil diskusi kami bertiga membuat saya mengambil satu kesimpulan mengenai CS. It's not a dating site, it's a site that connects you to people around the world. A site that makes you meet lots of awesome people. Tentu saja normal merasa suka dengan awesome people but then it becomes impossible because they live in the place that we only go there for holiday.

Icha


0 comments: