pemandangan kawah Ijen dari puncak gunung Ijen
Kawah Ijen adalah kawah yang berada di puncak Gunung Ijen, gunung berapi yang berada dia ntara Kabupaten Probolinggo dan Banyuwangi Jawa Timur. Kawasan wisata gunung api ini memang masih belum seterkenal Bromo namun keindahannya tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Apalagi ternyata kawah Ijen sudah terkenal di Eropa sana karena ada banyak televisi Eropa yang membuat film dokumenter mengenai kawasan ini.
Saya memutuskan untuk pergi ke Kawah Ijen setelah mengobrol dengan Natacha, seorang teman dari Prancis yang pernah backpacker-an ke Indonesia. Menurutnya salah satu tempat terbaik yang dia datangi di negara kita ini adalah Kawah Ijen. Berbekal sedikit informasi yang saya dapat melalui googling saya pun berangkat ke Ijen dari Jogjakarta bersama Samuel. Fyi, sangat sulit mendapat informasi jelas dan lengkap untuk dapat pergi ke Ijen, bahkan ketika sudah berada di Banyuwangi sekalipun hanya sedikit orang yang tahu bagaimana untuk mencapai Ijen.
Selain wisata gunungnya yang sangat indah dan memiliki danau belerang besar yang paling asam di dunia, Ijen juga memiliki keunikan yang berbeda dengan daerah wisata lainnya, yaitu keberadaan para penambang belerang yang biasa bekerja di sana. Ada sekitar tiga ratus penambang yang bekerja setiap hari, mengambil belerang dari pusat bumi Ijen. Menurut saya justru para penambang inilah yang menjadi daya tarik utama Ijen. Para pekerja keras yang berprofesi sangat berat dan membahayakan jiwa.
When to Go
Anytime, tapi kalau memang gak suka trekking hujan-hujanan lebih baik datang pas musim kemarau. Summer time bule -Juni sampai Agustus-, Ijen biasanya dipenuhi oleh turis asing, terutama dari Prancis. Katanya, salah satu jurnalis kenamaan Prancis, Nicolas Hulot pernah membuat film dokumenter mengenai Ijen dan film itulah yang banyak membawa wisatawan Prancis yang juga sangat suka dengan olah raga gunung seperti trekking. Kalau niat melihat para penambang yang lalu lalang membawa belerang, lebih baik jangan datang hari jumat. Pada hari tersebut truk pengangkut belerang libur jadi cuma ada sedikit penambang yang bekerja.
How to Get There
Ada dua jalur untuk menuju Kawah Ijen, melalui Probolinggo atau Banyuwangi. Sudah beberapa kali saya kesana tapi saya hanya melewati jalur Banyuwangi. Ada beberapa alternatif untuk berangkat ke Ijen melalui Banyuwangi :
1. Cara Murah
Dari terminal Karang Ente bisa naik angkot yang menuju Licin tapi angkot hanya ada sampai jam dua belas siang jadi harus berangkat sangat pagi. Kalau berangkat dengan tim bisa juga mencarter angkot hingga Licin atau Jambu kisaran harganya sekitar Rp.100.000/angkot. Dari Jambu bisa men-stop truk kopi atau truk belerang yang melintas, biasanya pagi dan siang hari. Truk tersebut akan membawa kita hingga Paltuding hanya dengan harga Rp. 5.000/orang. Saat saya pergi dengan Samuel, saya cukup « tahu diri » membayar Rp.10.000/orang karena saya membawa seorang bule which here could mean that you have to pay more than local.
2. Cara Standard Turis
Di Banyuwangi maupun di desa terakhir Licin ada banyak jasa antar ke Paltuding dengan menggunakan jeep harga yang ditawarkan pun beragam mulai dari Rp. 600.000 dari Banyuwangi dan Rp. 300.000 dari Licin -disarankan untuk menawar-. Sangatlah sulit untuk pergi ke Paltuding dengan menggunakan kendaraan selain mobil 4x4 karena jalanan yang sangat tidak bersahabat dengan roda mobil biasa. Harga tersebut tergolong murah mengingat jalur yang cukup panjang dan apabila traveling dengan tim share cost pun bisa hingga enam orang.
Where to Stay
Ada dua penginapan yang sudah pernah saya coba di kawasan Ijen ; Ijen Resort dan Ijen Resto. Keduanya merupakan pengalaman yang sangat memuaskan. Buat para backpacker Ijen Resto bisa menjadi alternatif murah selain kemping (which is also possible). Hotel dengan lima kamar berupa rumah panggung ini sangatlah nyaman dan tenang untuk ditinggali ditambah lagi taman kecil yang asri juga menghiasi dengan cantiknya. Harga mulai Rp. 200.000/malam. Hotel ini berada di desa Jambu tepat di pinggir jalan utama menuju Ijen. Jalur ini juga cocok untuk men-stop truk dan menumpang. Petugas hotel akan memberi tahu jam keberangkatan truk, biasanya pagi sekitar pukul 7 dan siang hari pukul 13.
For those who has more budget, you SHOULD stay in Ijen Resort, a really recommended hotel in Ijen the rate starts from 400.000 IDR. Jalanan menuju hotel ini memang cukup sulit untuk dicapai dengan kendaraan umum. Masih berjarak sekitar enam kilometer dari Licin dan cukup menjauhi jalanan utama Ijen tapi pemandangan dimana hotel itu berada sangatlah menakjubkan. Hotel ini berada ditengah-tengah areal persawahan dan pegunungan yang sangat indah.
Landscape sepanjang perjalanan menuju Ijen dari Banyuwangi memang luar biasa indah. Ada banyak sawah berundak-undak yang tidak kalah cantik dengan terasering terkenal di Bali. Udara pegunungan yang sejuk menjadikan Licin desa yang cocok untuk liburan tanpa harus naik ke Ijen sekalipun. Pemandangan dari Licin juga tidak kalah cantik. Mulai dari perkebunan kopi, cengkeh, hingga hutan hujan tropis yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon pakis raksasa membuat saya selalu ingin kembali ke Kawah Ijen.
Setelah mencapai Paltuding -tempat terakhir dimana kendaraan bisa melintas- dan membayar uang masuk seharga Rp.4.000/org untuk turis lokal dan Rp. 15.000/org untuk turis asing, kita sudah harus trekking sejauh tiga kilometer. Jalur trekking sendiri cukup sulit karena sepanjang tiga kilometer tersebut kita akan terus berjalan menanjak oleh sebab itu sangat disarankan untuk memulai trekking di pagi hari agar tidak terlalu panas ketika hiking maupun untuk masuk ke jalur tambang belerang, biasanya para hikers memulai perjalanan di pagi hari sekitar pukul 6 dari Paltuding, bahkan banyak campers yang mulai trekking malam hari untuk bisa melihat sunrise Ijen, padahal konon sunrisenya sendiri tidak terlalu terlihat -unlike Bromo-.
Setelah berjalan sepanjang tiga kilometer tersebut tibalah kita di puncak Ijen dimana kita bisa melihat Kawah Ijen yang berwarna biru kehijauan dari atas puncak. Sepanjang perjalanan dari Paltuding akan ada banyak penambang yang lalu lalang, mereka lah yang membuat saya selalu ingin kembali ke Ijen. Keramahan menyambut para turis selalu sama, mereka selalu tersenyum kepada setiap turis yang melintas walaupun kita dapat melihat dengan jelas betapa sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.
Menurut peraturan tertulis, para turis dilarang turun hingga ke tambang belerang yang terletak tepat di samping kawah, namun as we know, we are in Indonesia, peraturan selalu bisa disiasati dengan mudah. Ada banyak penambang yang menawarkan jasa mengantar hingga pertambangan dan saya sarankan untuk memakai jasa mereka karena turun tanpa guide jalur tersebut memang cukup berbahaya. Untuk bisa mencapai Kawah Ijen dan tambang belerang, dari puncak kita masih harus berjalan sekitar satu kilometer dengan trek yang sangat sulit, batuan kering yang terjal. Kita harus sangat memerhatikan setiap langkah kaki yang diambil karena sangat berbahaya bagi penambang yang masih di bawah apabila ada batu yang jatuh akibat salah langkah.
para penambang yang sedang menambang belerang
Pekerjaan berat penambang mengangkut belerang hingga kaki Ijen
Penambang Belerang
Mereka adalah objek utama wisata, salah satu alasan kuat mengapa ada banyak sekali turis datang mengunjungi daerah wisata ini. Saat saya dan Samuel datang ke Ijen, kami langsung ditemani oleh seorang penambang berusia tiga puluh tahun-an yang bernama Husaeni. Beliau mengantar kami hingga ke tambang belerang dengan penuh senyuman hangat dan tanpa pernah sedikitpun mengeluh akan pekerjaannya yang sangat berat.
Berjalan sejauh empat kilometer dengan jalur yang sangat sulit membawa dua keranjang kosong yang siap untuk diisi lelehan belerang yang telah mengeras. Belerang dengan bobot yang tidak ringan yang akan mereka jual dengan harga yang mengejutkan saya dan semua pengunjung Ijen, Rp. 625/kg. Saya akhirnya mengerti mengapa para penambang tersebut selalu meminta sebatang rokok kepada beberapa pengunjung, karena ternyata satu kilogram belerang yang mereka bawa saja tidaklah cukup untuk membeli sebatang rokok yang mereka hisap tersebut.
Dari setiap kilogram yang mereka bawa, ada keringat deras yang mengucur, dari setiap kilogram yang melukai punggung kecil mereka ada perjuangan untuk bisa bertahan hidup, dari setiap kilogram yang meremukkan tulang mereka yang ringkih ada seuntas senyum dan harapan bahwa mereka akan pulang dengan membawa uang untuk membeli beras kepada istri yang menunggu di rumah.
Pak Husaeni, hari itu « hanya » bisa membawa 54 kg belerang di punggungnya yang sudah terluka akibat terlalu sering membawa beban berat, namun ia tetap tersenyum saat melihat kupon timbangan yang akan ditukarkan dengan uang sebesar Rp. 34.000, sementara saya justru menangis melihat senyumannya tersebut. Ada lagi seorang bapak tua yang berpostur sangat kurus, hari itu ia berhasil membawa 83 kg belerang di dalam dua keranjang bambunya padahal saat saya bertanya, beratnya hanya sekitar 60kg saja :'(
Saya belajar tentang cara hidup yang bener-benar berbeda dengan apa yang biasa saya lihat dari tempat dimana saya berasal. Uang 34rb yang didapat oleh Pak Husaeni sangatlah berarti, karena ia harus pergi mempertaruhkan nyawa di panas dan sesaknya tambang belerang. Padahal ada banyak orang -termasuk saya- yang sering menghamburkan 34rb hanya untuk membeli secangkir kopi.
Para penambang belereng tersebut membuka mata saya akan sebuah kehidupan yang berat namun ternyata sangat mereka nikmatitwalau dengan keterpaksaan tapi mereka semua tidak pernah terpaksa memberi senyuman kepada para turis yang datang. Tidak sedikit penambang yang memberi saya kado belerang hasil tambang mereka, padahal untuk meengambilnya dibutuhkan perjuangan.
Finally, para penambang tersebutlah yang menghidupkan pariwisata Ijen, para penambang yang dibayar secara tidak layak, yang bahkan tidak mendapat bagian sepeser pun dari tiket masuk yang ditarik kepada para turis, padahal untuk mereka lah turis banyak berdatangan. Para penambang yang ternyata angka harapan hidupnya hanya bisa mencapai empat puluh tahun saja, mereka yang memiliki tonjolan luka di setiap punggungnya akibat beban yang terlalu berat. Para penambang ini pulalah yang selalu membuat saya bersemangat untuk naik kembali ke Ijen, a place where you can learn the living.
Icha
0 comments:
Post a Comment