Are you really here
or am i dreaming?
i can't tell dreams from truth
cause it's been so long
since i have seen you
i can hardly remember you face anymore
or am i dreaming?
i can't tell dreams from truth
cause it's been so long
since i have seen you
i can hardly remember you face anymore
Soundtrack film Once tersebut memang paling cocok untuk menggambarkan perasaan saya akhirnya bertemu kembali dengan Samuel setelah hampir satu tahun perpisahan kami berdua. lirik tersebut pula lah yang saya pakai untuk salah satu chapter dalam buku Winter to Summer. some people might think that it really what happened, bahkan saya sendiri membayangkan pertemuan di bandara yang begitu membahagiakan saat akan melihat kembali wajah yang sudah lama hanya bisa saya lihat melalui layar kecil notebook asus saya tercinta. However, kenyataan memang gak seindah kisah fiksi yang saya tulis dengan penuh perasaan, pertemuan kembali saya dengan Samuel berlangsung tidak seindah yang pertemuan kembali Emmanuel dan Kirana di Bandara Soekarno-Hatta.
Sam mengabarkan bahwa dirinya akan tiba di Indonesia tanggal 4 Juli ternyata tiba lebih awal dari yang ia sendiri perkirakan. saya yang tengah mengajar murid les saya di sebuah kamar kost-an di Jatinangor tiba-tiba dikejutkan dengan telepon masuk dari sebuah nomor ponsel Indonesia.
"Kok kamu gak jemput aku di Bandara?"
"Hah? ini Sam? katanya kamu baru nyampe tanggal 4, sekarang kan baru tanggal 3?" Panik, bingung, takut, semuanya bercampur jadi satu because it was impossible for me to come to the airport from Jatinangor in only few minutes.
"Oh, yaudah gak apa-apa aku ke Bandung naik bus aja tinggal tanya-tanya sama orang di sini, jangan khawatir jemput aja di Bandung nanti"
He had no cellphone, no rupiah, and nobody that he knew there, akhirnya saya hanya bisa menangis saking paniknya. Les langsung berhenti saat itu juga, saya langsung meminta bantuan seorang teman untuk mengantar saya ke Bandung menuju tempat host CS Sam disana. Di perjalanan menuju Bandung, Sam mengirim saya sms dari seseorang yang menolongnya di Bandara.
"jangan panik, aku pasti bisa sampai Bandung, katanya aku disana tiga jam lagi. ini udah di Bus Primajasa"
"Udah santai aja pasti dia nyampe selamet kok!" Erwin, host CS yang akan menerima Sam di Bandung juga langsung mencoba menenangkan saya yang terlihat sangat panik dan khawatir. kami berdua pun langsung pergi ke Batu Nunggal untuk menjemput Samuel.
Pertemuan yang saya bayangkan akan menjadi seromantis tulisan-tulisan saya ternyata justru berubah menjadi menegangkan karena salah komunikasi. Jujur saja, saya cukup kaget karena ternyata Samuel bisa juga sampai di Bandung dengan PrimaJasa pula. Fyi, biasanya bule yang baru datang ke Indonesia banyak yang tertipu oleh para supir taksi 'nakal' atau bahkan orang-orang yang menawarkan menggunakan telepon genggam mereka tapi ujung-ujungnya meminta tarif yang tidak masuk akal atas jasa yang tidak seberapa tersebut.
Dari dalam mobil Avanza milik Erwin, saya melihat Sam yang tengah menunggu di depan pool PrimaJasa. Langit Bandung memang telah gelap malam itu, tapi hati saya begitu cerah melihat kembali wajah yang selalu saya rindukan selama hampir satu tahun tersebut. Wajah yang memandang saya dengan senyuman dan memeluk saya erat. akhirnya penantian panjang itu terjawab sudah, ia ada di sana tepat di depan saya, membayar semua kerinduan.
Cerita pertemuan kembali ini memang tidak seindah yang saya bayangkan ataupun seromantis kisah cinta Kirana dan Emmanuel. Namun saya bahagia, ia akhirnya datang untuk melihat negara yang selalu saya ceritakan, melihat tempat dimana saya tinggal dan bagaimana saya menjalani kehidupan saya di Indonesia, kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang saya pernah miliki di Prancis dulu.
Kami berdua hanya dua insan yang mencoba untuk saling mendekat setelah terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh ... Thank you for coming from thousands miles away there :)
Sam mengabarkan bahwa dirinya akan tiba di Indonesia tanggal 4 Juli ternyata tiba lebih awal dari yang ia sendiri perkirakan. saya yang tengah mengajar murid les saya di sebuah kamar kost-an di Jatinangor tiba-tiba dikejutkan dengan telepon masuk dari sebuah nomor ponsel Indonesia.
"Kok kamu gak jemput aku di Bandara?"
"Hah? ini Sam? katanya kamu baru nyampe tanggal 4, sekarang kan baru tanggal 3?" Panik, bingung, takut, semuanya bercampur jadi satu because it was impossible for me to come to the airport from Jatinangor in only few minutes.
"Oh, yaudah gak apa-apa aku ke Bandung naik bus aja tinggal tanya-tanya sama orang di sini, jangan khawatir jemput aja di Bandung nanti"
He had no cellphone, no rupiah, and nobody that he knew there, akhirnya saya hanya bisa menangis saking paniknya. Les langsung berhenti saat itu juga, saya langsung meminta bantuan seorang teman untuk mengantar saya ke Bandung menuju tempat host CS Sam disana. Di perjalanan menuju Bandung, Sam mengirim saya sms dari seseorang yang menolongnya di Bandara.
"jangan panik, aku pasti bisa sampai Bandung, katanya aku disana tiga jam lagi. ini udah di Bus Primajasa"
"Udah santai aja pasti dia nyampe selamet kok!" Erwin, host CS yang akan menerima Sam di Bandung juga langsung mencoba menenangkan saya yang terlihat sangat panik dan khawatir. kami berdua pun langsung pergi ke Batu Nunggal untuk menjemput Samuel.
Pertemuan yang saya bayangkan akan menjadi seromantis tulisan-tulisan saya ternyata justru berubah menjadi menegangkan karena salah komunikasi. Jujur saja, saya cukup kaget karena ternyata Samuel bisa juga sampai di Bandung dengan PrimaJasa pula. Fyi, biasanya bule yang baru datang ke Indonesia banyak yang tertipu oleh para supir taksi 'nakal' atau bahkan orang-orang yang menawarkan menggunakan telepon genggam mereka tapi ujung-ujungnya meminta tarif yang tidak masuk akal atas jasa yang tidak seberapa tersebut.
Dari dalam mobil Avanza milik Erwin, saya melihat Sam yang tengah menunggu di depan pool PrimaJasa. Langit Bandung memang telah gelap malam itu, tapi hati saya begitu cerah melihat kembali wajah yang selalu saya rindukan selama hampir satu tahun tersebut. Wajah yang memandang saya dengan senyuman dan memeluk saya erat. akhirnya penantian panjang itu terjawab sudah, ia ada di sana tepat di depan saya, membayar semua kerinduan.
Cerita pertemuan kembali ini memang tidak seindah yang saya bayangkan ataupun seromantis kisah cinta Kirana dan Emmanuel. Namun saya bahagia, ia akhirnya datang untuk melihat negara yang selalu saya ceritakan, melihat tempat dimana saya tinggal dan bagaimana saya menjalani kehidupan saya di Indonesia, kehidupan yang jauh berbeda dengan apa yang saya pernah miliki di Prancis dulu.
Kami berdua hanya dua insan yang mencoba untuk saling mendekat setelah terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh ... Thank you for coming from thousands miles away there :)
Icha
0 comments:
Post a Comment